Pria Pengajak Warga Amerika Makan 'Ikan Sampah' Kini Jadi Miliarder

Kamis, 20 Juli 2017 12:03
Pria Pengajak Warga Amerika Makan 'Ikan Sampah' Kini Jadi Miliarder

Sooperboy.com - Chuck Bundrant baru saja lulus dari sekolah menengah atas dengan uang U$ 80  atau Rp 1 juta di saku ketika melintasi separuh Amerika menuju Seatle, untuk mendapat uang beberapa dolar dari memancing. Saat itu tahun 1961.

Sejak saat itu dia belum berhenti memancing.

Menurut Bloomberg, Kamis 20 Juli 2017, hari ini, Chuck Bundrant, pendiri dan pemilik saham mayoritas perusahaan Trident Seafood, kekayaannya setidaknya mencapai U$ 1 miliar atau Rp 13,3 triliun.

Kembali ke tahun 1980an, berkat kerja kerasnya, Bundrant berhasil meyakinkan orang Amerika untuk mulai memakan ikan pollock, yang sebelumnya dikenal sebagai ikan sampah, di restoran cepat saji.

ikan pollock Alaska

Sampai hari ini, lewat perusahaannya Trident Seafood, Bundrant masih mengirim ikan sampah itu --bersama salmon dan ikan cod-- ke rantai penjualanan ikan segar, termasuk supermarket berjaringan luas seperti Cotsco dan Safeway.

Selama karirnya, Bundrant juga berhasil meyakinkan politisi untuk mengeluarkan undang-undang yang membantu bisnis Trident Seafood dengan menjaga laut dari serbuan nelayan asing. Pada hari ini, dia juga diuntungkan dengan munculnya kesadaran publik tentang makanan sehat yang berasal dari makanan laut.

Bloomberg menghitung bahwa Bundrant memiliki 51 persen saham Trident Seafood, sebuah perusahaan yang memiliki pendapatan U$ 2,4 miliar atau Rp 31 triliun pada tahun lalu.  Trident Seafood kini mengoperasikan sekitar 16 pabrik pengolahan dan 41 kapal penangkap ikan.

"Kami tidak perlu menjawab pertanyaan bankir investasi seperti beberapa perusahaan seafood lainnya," tulis perusahaan itu di situsnya. "Kami hanya menjawab pertanyaan pelanggan kami, nelayan kami, dan karyawan kami."

Bundrant sendiri menolak berkomentar tentang statusnya sebagai miliarder. Ia sudah mewariskan pengelolaan perusahaan ke anaknya, Joe, selaku Chief Executive Officer Trident Seafood sejak tahun 2013.

Namun, Brent Paine, Direktur Eksekutif Asosiasi Dagang United Catcher Boats, mengenang Bundrant sebagai "pengambil risiko besar, dan seseorang yang berpikiran terbuka untuk mendapat kesempatan baru."

Cerita Chuck Bundrant sudah menjadi legenda di perusaahaan itu. "Dia awalnya tidak tahu apa-apa tentang kapal penangkap iklan, atau soal menangkap serta memproses kepiting dan ikan salmon," kata anaknya, Joe, dalam sebuah video korporasi itu yang dikeluarkan dua tahun lalu.

"Dia hanya menonton film yang diperankan Jhon Wayne yang mengatakan 'ke Utara, ke Alaska.' Dan dia mendengar bisa mendapatkan uang dari penangkapan ikan, di lokasi yang ribuan mil jauhnya dari rumahnya," kata Joe.

Dan, Bundrant akhirnya menuju pelabuhan Bristol Bay, Alaska. Di sana dia tidur seadanya di dermaga dan mencoba mencari pekerjaan apa saja untuk bertahan hidup.

Setelah beberapa tahun, Bundrant mulai mencari cara untuk memulai bisnis di industri perikanan. Bertemulah dia dengan dua nelayan penangkap kepiting lainnya --Kaare Ness dan Mike Jacobson.

Dan, pada tahun 1973, mereka bertiga berpatungan mengumpulkan uang untuk membangun Billikin, sebuah kapal sepanjang 135 kaki.

Pada saat itu sebagian besar nelayan kepiting membawa tangkapan mereka kembali ke dermaga, tempat perusahaan pengolahan mengeluarkan daging kepiting sebelum mengirim ke pasar.

Bundrant melengkapi kapal Billikin dengan peralatan pembekuan ikan, yang memungkinkan para pekerja untuk tetap berada di laut untuk memperbanyak tangkapan.

Pada awal 1980an, persediaan kepiting mulai berkurang dan Bundrant memutuskan untuk beralih ke penangkapan ikan pollock, atau yang saat itu dikenal sebagai ikan sampah. Ikan itu populasinya banyak di Laut Bering.

Ikan pollock populer di Asia tapi tidak di Amerika. Budrant berpikir kebiasaan warga Amerika itu akan berubah jika mereka sudah merasakan kelezatan rasa ikan pollock.

Penjualan pertamanya dilakukan ke jaringan restoran Long Jhon Silbers. Bundrant sendiri yang berperan sebagai sales.

Hal itu kemudian membuka pintu lainnya, termasuk kerjasama dengan McDonald dan Burger King, termasuk dengan distributor ritel besar macam Cotsco. Mereka semua kemudian mulai menggunakan ikan pollock sebagai isi roti sandwich.

Akses Trident Seafood ke pasar ritel yang luas mengubah Trident menjadi sebuah perusahaan ikan besar.

Bundrant kemudian membangun perusahaan yang terintegrasi secara vertikal yang melakukan segala hal. Mulai dari menangkap dan mengolah ikan secara massal, sampai menjual produk bernilai tambah seperti ikan salmon dan ikan pollock kalengan.

Trident Seafood, bekerja sama dengan perusahaan ikan Amerika lainnya, juga meminta bantuan Kongres untuk membatasi persaingan dengan perusahaan ikan asing.

Dengan dukungan Senator Washington, Warren Magnuson, dan Senator Alaska, Ted Stevens, Kongres Amerika kemudian mengeluarkan sebuah undang-undang yang mendorong lebih jauh batas di mana kapal nelayan asing bisa beroperasi dengan bebas di Amerika. Yakni di jarak 200 mil dari lepas pantai. Padahal aturan sebelumnya hanya 12 mil dari pantai.

Pada tahun 1998, Kongres juga mengakhiri praktik perusahaan penangkapan ikan asing dengan mewajibkan perusahaan itu mendaftarkan diri sebagai perusahaan Amerika. Dan ada ketentuan baru yang mewajibkan 75 persen saham perusahaan itu harus dimiliki orang Amerika.

"Salah satu arsitek perubahan undang-undang itu adalah Bundrant," kata Paine dari United Catcher Boats. "Aturan itu membantu perusahaannya semakin berkembang."

Saat ini bisnis Trident Seafood juga didukung oleh melonjaknya permintaan pada ikan. Menurut penelitian PBB, hal itu karena konsumen berusaha menambahkan protein yang sehat ke makanan mereka.

Menurut indeks harga ikan, Oslo Seafood Index Global, harga ikan juga telah melonjak lebih dari 300 persen selama lima tahun terakhir. Hal itu didorong dengan permintaan pada ikan salmon yang mendongkrak harga jual ikan jadi lebih tinggi.

Menurut Paine, Chuck Bundrant selalu menyukai Henry Ford. "Dia pernah mengatakan pada saya, 'Setiap industri membutuhkan pemimpin yang kuat, itu akan membantu bisnis yang awalnya kecil untuk tumbuh. Saya adalah pemimpin besar itu...'" (eha)

Baca juga:

Pria Ini Bangun Usaha Senilai Rp 13,3 Triliun dari Gudang Bawah Tanah

Berhenti Gunakan Kokain, Pria Ini Jadi Miliarder Berkat Jus Buah

Pria 89 Tahun Penjual Es Loli Jadi Miliarder Berkat Donasi Netizen