Pria Pencari Suaka di Tahanan Pulau Manus Raih Penghargaan Sastra Tertinggi Australia

Rabu, 6 Februari 2019 13:02
Pria Pencari Suaka di Tahanan Pulau Manus Raih Penghargaan Sastra Tertinggi Australia

Sooperboy.com - Pencari suaka di Pulau Manus, Papua Nugini, Behrouz Boochani, yang ditahan pemerintah Australia selama bertahun-tahun,  memenangkan hadiah utama dari penghargaan sastra bergengsi dari Pemerintah negara bagian Victoria, Australia, setelah penyelenggara membuat pengecualian untuk mengizinkan karyanya ikut dalam penjurian meski bukan penduduk atau warga negara Australia.

Menurut ABC News, Rabu 6 Februari 2019, novel karya Behrouz Boochani yang berjudul 'No Friend But the Mountains:  Writing from Manus Prison ' memenangkan penghargaan sastra dengan nilai hadiah terbesar di Australia yakni sebesar $ 100.000 atau setara lebih dari Rp 1 miliar untuk Penghargaan Sastra Victoria.

Boochani yang dulu bekerja sebagai jurnalis itu  juga berhak menerima tambahan hadiah sebesar $ 25.000 atau Rp 253 juta sebagai pemenang pertama dalam kategori non-fiksi.

Tapi Behrouz Boochani tidak hadir pada upacara penyerahan penghargaan tersebut. Jurnalis warga Kurdi-Iran itu tetap berada di Pulau Manus dan telah ditolak masuk ke Australia sejak penahanannya dimulai pada 2013.

Berbicara kepada The Guardian, di mana dia juga menjadi salah satu kolumnis di media tersebut, Behrouz Boochani menggambarkan menerima penghargaan dari negara yang membuatnya terpenjara selama enam tahun sebagai sebuah "perasaan paradoks".

"Sasaran utama [karya novel] saya adalah selalu untuk orang-orang di Australia dan di seluruh dunia agar mereka memahami secara mendalam bagaimana sistem ini telah menyiksa orang-orang tak bersalah di Pulau Manus dan Nauru secara sistematis selama hampir enam tahun," katanya.

"Saya berharap penghargaan ini akan membawa lebih banyak perhatian pada situasi kami, dan menciptakan perubahan, dan mengakhiri kebijakan biadab ini."

Pusat Hukum Hak Asasi Manusia Australia mengunggah cuitan berisi ucapan selamat melalui akun twitter mereka kepada Boochani dan menyebut novelnya sebagai "sebuah kisah dari Australia bahwa sebagai bangsa kita tidak bisa dibanggakan, tetapi ini adalah kisah yang tidak bis diabaikan".

Mengetik dengan ponsel
Boochani menulis seluruh novelnya di telepon genggamnya dan mengirimkannya halaman demi halaman selama bertahun-tahun kepada penerjemah Omid Tofighian melalui Whatsapp.

Berbicara pada program ABC The World pada Kamis (31/1/2019) malam, Omid Tofighian mengatakan buku itu "menyampaikan penyiksaan sistematis yang ditimbulkan pada para pengungsi di penjara di Pulau Manus".

"Dia memadukan teknik yang berbeda secara bersama-sama dan genre yang berbeda," kata Tofighian.

"Saya menyebut gayanya sebagai sebuah anti-genre ... pada dasarnya mengevaluasi ulang dan bahkan mengkritik jenis konvensi yang terkait dengan genre-nya."

Omid Tofighian mengatakan penghargaan itu akan memberi Boochani suara yang lebih besar dalam berbicara atas nama sesama pencari suaka.

"Saya pikir orang akan menyikapi pendekatan filosofis, komentar politik dan analisis budayanya lebih serius," katanya.

Pusat pemrosesan regional di Pulau Manus ditutup pada 2017 tetapi 600 pengungsi masih tinggal di pulau itu. (eha)

Baca juga:

Penyanyi Bob Dylan Raih Nobel Sastra

El Floridita, Bar Kuba Langganan Sastrawan Ernest Hemingway