Pria Ini Terbukti Tak Bersalah Memperkosa Setelah 26 Tahun Dipenjara

Rabu, 9 Mei 2018 14:31
Pria Ini Terbukti Tak Bersalah Memperkosa Setelah 26 Tahun Dipenjara

Sooperboy.com - Ini adalah sebuah kisah lain tentang peradilan sesat.

Awalnya, seorang wanita yang terlihat kotor, kusut dan menangis, berlari ke mobil patroli polisi yang diparkir di jalan Harlem di pagi hari tanggal 18 Januari 1991. Wanita itu mengatakan kepada petugas polisi bahwa dia telah diculik di dekat rumahnya di Queens dan diperkosa oleh tiga pria kulit hitam, yang bisa dia identifikasi.

Menurut The New York Times, Rabu 9 Mei 2018, sebelum bulan Januari 1991 itu berakhir, polisi telah menangkap dua orang yang diduga memperkosa wanita itu. Mereka adalah Gregory Counts, 19 tahun, dan VanDyke Perry, 21 tahun. Menurut dokumen pengadilan, mereka berdua dituduh melakukan pemerkosaan, penculikan dan perbuatan kriminal berupa kepemilikan senjata api. Sementara pelaku ketiga tidak pernah tertangkap.

Saat itu penyidik ​​tidak memiliki bukti fisik. Bercak sperma dari wanita korban perkosaan itu tidak cocok dengan sperma dua pria yang dituduh. Sehingga jaksa amat sangat bergantung pada kesaksian korban, yang kerap kali tidak konsisten. Pembela berpendapat wanita itu, seorang pecandu yang baru pulih, mengarang cerita untuk melindungi pacarnya, yang telah menembak Perry dua bulan sebelumnya dan tengah dicari oleh polisi.

Namun, pada tahun 1992, dewan juri menghukum Counts dan Perry atas semua tuduhan, kecuali dakwaan kepemilikan senjata api. Perry akhirnya menjalani hukuman 11 tahun penjara, sementara Counts lebih lama: 26 tahun.

Pada hari Senin kemarin, kedua pria itu memasuki ruang sidang yang padat untuk mendengar jaksa wilayah Manhattan, Cyrus R. Vance Jr., meminta hakim di Mahkamah Agung untuk membatalkan tuduhan pada mereka berdua  berdasarkan bukti DNA yang baru ditemukan dan karena korban wanita itu menarik kembali kesaksiannya.

"Peradilan yang sesat ini menghancurkan hidup saya," kata Perry, sambil menghapus air matanya. "Tapi saya tidak pernah menyerah dengan perjuangan saya."

( VanDyke Perry, ketiga dari kiri)

Counts sendiri menangis saat memasuki pengadilan dan membungkuk di atas pagar pembatas ruang sidang. "Saya tidak bisa marah," kata Counts menunjuk pada wanita penuduhnya. “Jika saya membuang waktu satu menit untuk marah, itu hanya buang-buang waktu saja. Ini satu menit saat saya bisa berbahagia.”

Bulan lalu, wanita itu, yang tidak disebutkan identitasnya, mengatakan kepada penyelidik dari kantor jaksa distrik dan organisasi nirlaba Innocence Project, perkosaan itu “tidak pernah terjadi.” Pengakuannya datang setelah tes DNA menghubungkan sperma yang ditemukan di tubuhnya itu adalah milik pria lain berdasar penelusuran dari database F.B.I..

"Pada akhirnya, tidak ada yang bisa dibayarkan pada para terdakwa untuk tahun-tahun yang hilang bersama keluarga, atau tahun-tahun yang mereka habiskan di penjara," kata jaksa Vance. "Tidak ada permintaan maaf yang bisa membuat mereka utuh kembali."

Keputusan itu adalah hasil dari penyelidikan kolaboratif yang dimulai pada tahun 2017 oleh Conviction Integrity Program dari Jaksa Wilayah Manhattan, Innocence Project, dan Office of the Appellate Defender’s Reinvestigation Project. Ketiga entitas itu mengajukan mosi bersama pada hari Senin kemarin dan meminta Hakim Mark Dwyer untuk membatalkan dakwaan semula dan menyatakan para terpidana tidak bersalah.

"Ini adalah waktu yang sangat gelap di kota New York selama epidemi prasangka merajalela," kata Barry Scheck, pendiri Innocence Project, sebuah organisasi nirlaba yang menggunakan bukti DNA untuk membebaskan tahanan yang keliru dihukum. "Pada saat ini di kota New York, orang-orang takut pada remaja yang tampak seperti klien saya."

Ini adalah putusan kesembilan yang harus dibatalkan sejak pembentukan Conviction Integrity Program di Manhattan pada tahun 2010. Demikian pula, kantor pengacara distrik Brooklyn telah membatalkan 24 vonis sesat sejak 2014, dan kantor jaksa distrik Bronx membatalkan tiga vonis sesat sejak 2016.

Pengacara Perry dan Counts mengatakan bahwa kasus itu sudah cacat sejak awal. Ketika persidangan dimulai pada tahun 1992, wanita itu bersaksi bahwa dia tinggal di Queens bersama pacarnya, yang merupakan pecandu narkoba, dan dua anak mereka. Pacar wanita itu mulai menjual narkoba dari rumahnya bersama Perry, Counts, dan orang ketiga. Tetapi pada bulan September 1990, ketiga pria itu menyerang pacar wanita itu karena gagal membayar utang.

Dua bulan kemudian, si wanita mengaku rumahnya dibobol dan dia mengatakan kepada polisi bahwa pelakunya adalah tiga pria yang memukuli pacarnya itu.

Dia memberi tahu dewan juri bahwa pada 18 Januari 1991, dia meninggalkan rumahnya di Queens ketika Counts, Perry dan seorang pria lainnya memaksanya masuk ke sebuah mobil yang berjalan dan mendesak untuk mengetahui di mana pacarnya berada. Ketika wanita itu menolak memberi tahu mereka di mana pacarnya berada, dia memberi kesaksian mereka bertiga  memperkosanya beberapa kali di dalam mobil yang berjalan dan di Central Park.

Selama persidangan, pembela berpendapat bahwa dia bukan saksi yang dapat diandalkan, karena ceritanya sering tidak konsisten.

Pembela juga berpendapat wanita itu memiliki motif untuk membalas dendam terhadap tiga pria itu. Juga untuk membantu pacarnya menghindari tuduhan bahwa dia telah menembak Perry sebelumnya sehingga dicari-cari polisi.

Counts dan Perry telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk melawan vonis pada diri  mereka secara hukum, namun upaya banding mereka selalu gagal.

Saat menjalani kurungan di sel isolasi, Counts  kemudian menulis ke Innocence Project, meminta agar mereka melakukan pemeriksaan database DNA dari sampel sperma yang ada dalam kasusnya.

Pada tahun 2012, pengacara dari Innocence Project menghubungi kantor jaksa wilayah dan meminta bukti fisik dalam kasus ini. Pada tahun 2015, DNA itu dites kembali. Menurut catatan pengadilan, sperma itu ternyata cocok dengan profil seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun pada tahun 1991 dan meninggal pada tahun 2011.

Peneliti Innocence Project dengan kantor kejaksaan kemudian mewawancarai ulang wanita tersebut pada tahun 2016 dengan disertai foto orang pemilik sperma itu. Tetapi wanita itu berkata dia tidak mengenalinya. Dia menjelaskan kepada peneliti bahwa dia telah menggunakan narkoba pada waktu itu dan dia akan melacurkan dirinya untuk mendukung kebiasaannya menggunakan narkoba. Wanita itu kemudian menolak untuk berbicara lebih lanjut.

Menurut catatan pengadilan, pada bulan Februari, para penyelidik menemukan dan mewawancarai pria ketiga yang tidak tertangkap polisi, yang menolak tuduhan perkosaan itu dan menjelaskan bahwa mobil di mana wanita itu mengaku  diserang tidak sedang berjalan pada saat itu.

Peneliti lalu kembali ke wanita itu, yang kali ini mengakui bahwa ceritanya selama ini bohong. Dia mengaku ke penyelidik bahwa pacarnya memaksanya untuk membuat tuduhan palsu. Dan dia mengaku telah dihantui rasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan.

Setelah dibebaskan setelah menjalani 11 tahun penjara, Perry pindah ke Portland, Oregon. Ia menikah dan memiliki enam anak. Dia terpaksa berjuang dengan cap "pemerkosa," tetapi kemudian menemukan pekerjaan memperbaiki rumah dan mobil, dan memulai bisnis lansekap untuk mendukung ekonomi keluarganya.

"Dia tidak ingin kembali ke tempat di mana dia diperlakukan dengan tidak adil," kata Mandy Jaramillo, staf pengacara senior dari Office of the Appellate Defender’s Reinvestigation. Dia kembali ke New York City untuk pertama kalinya pada hari Senin kemarin untuk hadir di sidang dengar pendapat.

Sejak pembebasannya, Counts sendiri telah berjuang untuk mencari pekerjaan. Banyak calon majikan yang menolak karena  catatan kriminalnya. Tetapi dia mengatakan dia mendapat dukungan dari keluarganya.

"Kasus ini adalah tragedi bagi semua orang yang terlibat," kata jaksa Vance dalam sebuah wawancara. “Ini adalah mimpi buruk setiap jaksa bahwa pria atau wanita yang tidak bersalah akan masuk penjara.”

Walau datangnya terlambat, keadilan itu akhirnya datang juga. Inikah yang disebut tragedi? (eha)

Baca juga:

Pria Ini Terbukti Tak Bersalah Setelah Dipenjara Selama 31 Tahun

Seorang Pria Dijatuhi Hukuman Penjara Tiga Abad Lebih karena Lakukan Ini

Lakukan Pelecehan Seks, Hakim Hukum Pria Ini dengan Hukuman Unik

Hakim Hukum Pria Ini Tulis 144 Kalimat Pujian ke Bekas Pacarnya

Masturbasi di Ruang Publik, Pria Ini Dihukum 2,5 Tahun Penjara