Pria Ini Sudah Cegah 40 Orang Bunuh Diri dari Jembatan Yangtze

Senin, 29 Agustus 2016 09:23
Pria Ini Sudah Cegah 40 Orang Bunuh Diri dari Jembatan Yangtze

Sooperboy.com - Sejak Chen Si, 46 tahun, melakukan patroli untuk mencegah seseorang melompat dari Jembatan Sungai Yangtze Nanjing 10 bulan lalu, dia telah melihat tiga orang nekat melompat dari jembatan itu untuk mengakhiri hidup mereka.

"Saya melihat seorang wanita muda yang tubuhnya meringkuk seperti bayi dan memegang kepalanya di lengan saat ia melompat. Saya merasa sedih mengingat dia untuk waktu yang cukup lama," kata Chen pelan seperti dilansir Taipei Times, Senin 29 Agustus 2016.

Mengenakan topi bisbol usang dan kacamata hitam besar untuk melindungi diri dari suhu panas yang bisa mencapai 50 derajat Celcius di jembatan itu, ia mengaku selalu tiba di akhir pekan pada pukul 8 pagi.

Lalu dia akan berada di jembatan itu sampai matahari terbenam. Jika dia beruntung, tak akan ada yang mencoba untuk mengakhiri hidupnya di jembatan itu. Tapi hal itu hampir tak pernah terjadi.

"Wanita lebih mudah dibujuk," kata Chen, seraya matanya menyapu jembatan sepanjang 4 kilometer yang membelah sungai terbesar di China itu.

"Anda bisa bicara dengannya dan mencoba membuat dia menangis karena mencurahkan sakit hati mereka. Para pria berbeda, saya biasanya langsung mengamankan mereka karena mereka jarang mau mendengarkan dan mereka juga terkadang sangat kuat," ujarnya, seraya menuturkan seorang laki-laki pernah nyaris mendorongnya jatuh dari jembatan.

Meski tidak ada yang menyebut lokasi itu sebagai "jembatan bunuh diri," nama itu sesungguhnya sudah melekat lama. Setiap hari Sabtu dan Minggu di kota metropolitan berpenduduk 6 juta orang itu --hanya 3 jam perjalanan dari Shanghai-- seseorang akan selalu datang untuk bunuh diri.

Jembatan Yangtze baru selesai tahun 1968 dan dirayakan sebagai salah satu pencapaian insinyur China. Karena jembatan itu tercatat di Guinnes Book of World Record sebagai jembatan terpanjang yang berfungsi sebagai jalan raya dan rel kereta api. Hari ini, jembatan itu kondang sebagai tempat bunuh diri.

Dengan menjatuhkan diri 100 meter ke permukaan air yang ada di bawah jembatan, sembilan detik jatuh dari atas jembatan akan menghancurkan seluruh tulang manusia. Sedangkan aliran dingin sungai Yangtze akan mengambil sisanya.

Untuk Chen, jembatan yang panjang itu nyaris mustahil untuk dijaga di kedua sisi. Jadi, jika ada seseorang sedang mempersiapkan diri naik ke pagar setinggi dada di ujung utara jembatan, tidak banyak yang bisa dilakukan Chen yang bertubuh gempal dan berkulit kecolaklatan ini.

Untunglah, pelaku bunuh diri lebih banyak memilih jalur selatan jembatan.

Selama bertugas mencegah orang melakukan bunuh diri, Chen telah berhasil menghentikan 40 orang dari upaya mereka melompat dari atas jembatan.

Meski begitu dia mengaku tak bisa menyelamatkan semua orang. "Saya hanya memiliki dua tangan. Tetapi jika saya berhasil menyelamat satu orang berarti saya menyelamatkan satu kehidupan," ujarnya.

Dia mengatakan, apa yang dia lakukan sekarang karena dia merasa terpanggil. Ia tertarik ke jembatan itu karena melihat semakin banyaknya kasus bunuh diri yang terjadi di sana seperti dimuat di media lokal.

Di Jembatan Sungai Yangtze Nanjing, jumlah orang yang tercatat bunuh diri di sini sudah mencapai lebih dari 1.000 orang. Rata-rata tiap tahun tercatat 27 orang tewas karena bunuh diri.

Di China, tempat bagi seperlima dari penduduk dunia, bunuh diri hanyalah fenomena puncak gunung es. Negara ini tidak seperti di Barat yang melihat bunuh diri sebagai tindakan hina lagi berdosa. Di China, bunuh diri malah sering dianggap sebagai cara untuk melestarikan kehormatan dan kemurnian moral.

Menurut statistik yang diterbitkan media pemerintah bulan November lalu, China menyumbang seperempat dari kasus bunuh diri dari seluruh dunia dengan angka 280.000 bunuh diri tiap tahunnya.

Bunuh diri adalah penyebab utama kematian di rentang usia 15-34 tahun di China, satu-satunya negeri dengan angka bunuh diri wanita lebih tinggi dari laki-laki. Dokter sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa wanita China daratan hampir tiga kali lebih mungkin mengakhiri hidup mereka ketimbang laki-laki. Penjelasannya mungkin karena faktor kebudayaan.

Chen mengatakan data itu juga yang menggerakkan dia untuk pergi ke Jembatan Yangtze guna menolong sesama.

"Seseorang harus melakukan sesuatu," kata pemilik toko kecil yang sudah merasakan kesukaran hidup sejak usia enam tahun ketika ibunya pergi meninggalkan dia.

"Apa yang ingin saya lakukan hanyalah memberikan harapan bagi orang putus asa," ujarnya.

Ketika ditanya sampai kapan dia akan berjaga, dia hanya menjawab pelan: "Sampai saya tak tahan lagi." (eha)