Pria Ini Jadi Sukarelawan Pertama Operasi Pergantian Kepala

Rabu, 31 Agustus 2016 15:24
Pria Ini Jadi Sukarelawan Pertama Operasi Pergantian Kepala

Sooperboy.com - Memutus kepala seseorang dan menempelkannya ke tubuh orang lain terdengar seperti sebuah fiksi ilmiah atau film horor. Namun beberapa ilmuwan di kehidupan nyata mengatakan mereka berencana akan mewujudkan hal itu pada awal tahun depan.

Menurut laporan CBS News, Rabu 31 Agustus 2016, neurosaintis Italia, Dr Sergio Canavero, sempat menjadi berita utama tahun lalu ketika mengumumkan rencananya untuk melakukan operasi transplantasi kepala manusia di tahun 2017. Ia telah merekrut ahli bedah China, Dr Xiapoing Ren, untuk bekerja bersama dia.

Dan, sekarang ia telah menemukan pasien sukarelawan untuk melakukan operasi perpindahan kepala pertama di dunia itu: seorang pria Rusia bernama Valery Spiridonov.

Spiridonov menderita penyakit Werdning-Hoffman, ganguan genetik langka yang membunuh sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang yang membantu tubuh untuk bergerak.

Alhasil, gerakan Spindonov terbatas pada kursi roda, anggota tubuhnya seluruhnya layu, dan gerakannya terbatas pada mengetik dan mengendalikan kursi roda dengan joystik.

Pada bulan September lalu, majalah The Atlantic mengangkat profil Spiridonov dan dua saintis yang berharap melakukan percobaan kontroversial itu.

"Untuk menghapus semua bagian yang sakit, bagian kepala akan melakukan kerja besar dalam kasus ini," kata Spiridonov ke majalah itu. "Sebab saya tidak melihat cara lain untuk mengobati diri saya."

Banyak ilmuwan telah berbicara keras menentang rencana Dr Canavero dan Dr Ren itu. Mereka menuduh kedua dokter itu telah mempromosikan ilmu pengetahuan sampah  dan menciptakan harapan palsu. Salah satu ilmuwan  bahkan mengatakan kedua dokter itu harus bertanggungjawab pada pasal pembunuhan jika pasiennya meninggal saat operasi.

Valery Spindonov adalah pria yang secara sukarela mengajukan diri sebagai orang pertama yang akan menjalani operasi transplantasi kepala.

Dr Canavero sendiri yakin operasi perpindahan kepala itu akan berjalan lancar dengan kemungkinan 90 persen sukses, meskipun banyak ahli meragukannya.

Dr Canavero telah mempublikasi rencana detil prosedur operasi itu, yang dia klaim telah sukses berhasil dilakukan pada tikus, di jurnal Surgical Neurology International.

Pertama, seperti operasi transplantasi organ lainnya, dia dan timnya akan membutuhkan donor yang cocok. Prosedur ini membutuhkan tubuh laki-laki muda yang otaknya sudah mati.

Setelah izin keluarga donor didapat, ahli bedah akan mengatur tubuh untuk melakukan pemenggalan kepala.

Pada saat yang sama, Spindonov akan dibawa oleh tim bedah lain untuk mendinginkan tubuhnya sampai 50 derajat Farenheit. Ini akan menunda kematian pada jaringan otak sekitar satu jam, sehingga ahli bedah harus bekerja dengan cepat.

Menggunakan pisau berlian, tim bedah akan memisahkan kepala kedua pasien dari tubuh mereka serta memutus tali tulang belakang mereka pada waktu yang sama.

Sebuah derek akan digunakan untuk menggeser kepala Spiridonov ke leher tubuh donor. Kedua ujung sumsum tulang belakang kemudian akan menyatu bersama dengan bantuan bahan kimia polyethyle glycol atau PEG, yang telah terbukti dapat menumbuhkan kembali sel-sel yang membentuk tulang belakang.

Otot dan pasokan darah tubuh donor kemudian akan bergabung dengan kepala Spiridonov, dan dia akan terus berada dalam keadaan koma selama tiga sampai empat minggu untuk mencegah gerakan selama masa penyembuhan. Elektroda akan ditanamkan guna merangsang sumsum tulang belakang untuk memperkuat koneksi saraf yang baru.

Canavero mengatakan transplantasi kepala manusia  --yang akan membutuhkan 80 ahli bedah dan biaya puluhan juta dolar AS itu-- akan memiliki "90 persen plus" peluang untuk sukses.

Namun, komunitas ilmuwan menentang keras rencana kontroversial itu.

"Ini secara ilmiah busuk, dan secara etis buruk," kata Arthur Caplan, kepala etika medis NYU Lagone Medical Center, dalam tulisannya di majalah Forbes tahun lalu.

Dr. Jerry Silver, seorang ilmuwan saraf di Case Western Reserve yang bekerja memperbaiki cedera tulang belakang, mengatakan pada CBS News, bahwa transplantasi yang diusulkan adalah "sains yang buruk dan seharusnya tidak pernah terjadi." (eha)