Obat Anti-Merokok Champix Mendorong Pria Ini Bunuh Diri

Jumat, 15 September 2017 15:01
Obat Anti-Merokok Champix Mendorong Pria Ini Bunuh Diri

Sooperboy.com - Seorang petugas koroner yang bertanggungjawab menyelidiki kematian seorang pria di Queensland, Australia, merekomendasikan pada produsen obat Pfizer agar memberi label peringatan pada obat anti-merokok buatannya yang bermerek Champix.

Hal itu setelah sebuah tes toksiologi menemukan obat itu berkontribusi pada kematian seorang pemuda yang memutuskan bunuh diri, menyusul pertarungan seorang ibu selama empat tahun terakhir untuk membuktikan bahwa obat anti-merokok Champix tersebut berkontribusi untuk kematian anaknya akibat bunuh diri.

Menurut ABC News, Jumat 15 September 2017, anak ibu itu bernama Timothy Jhon. Timothy meninggal akibat bunuh diri pada bulan April 2013 ketika dia baru berusia 22 tahun.

Ibu pemuda itu, Nyonya Phoebe Morwood-Oldham telah mengajukan dugaannya itu pada tahun 2015. Ia mengumpulkan 49.000 tanda tangan pada sebuah petisi online yang memaksa Dinas Koroner Queensland membuka kembali sebuah penyelidikan atas penyebab kematian Tymothy.

Sebelum meninggal, Timothy meninggalkan sebuah rekaman pesan terakhirnya sebelum bunuh diri untuk ibunya di bangku dapur. Dan di sebelah rekaman itu dia meninggalkan sekotak obat Champix yang baru diminumnya selama delapan hari terakhir.

"Mama, aku mencintaimu dengan segenap hatiku. Peter, kau adalah saudara terbaik yang bisa kuinginkan," kata Tymothy di kaset itu tentang ibu dan saudara kandungnya, Peter.

"Saya tahu ini tidak masuk akal sekarang, tapi ini untuk yang terbaik, percayalah padaku

"Saya kehilangan akal sehat, saya menjadi gila, saya mencintai kalian berdua," kata Timothy.

Nyonya Morwood-Oldham mengatakan perilaku aneh anaknya itu dimulai beberapa hari setelah anaknya menjalani perawatan untuk berhenti merokok.

"Saya harap ini membantu menyelamatkan orang lain," katanya.

Petugas koroner menemukan kecurigaan Nyonya Morwood-Oldham bahwa obat Champix tersebut memiliki peran dalam keputusan Timothy untuk mengakhiri hidupnya memang benar.

"Saya menemukan Champix berkontribusi pada kematian Timothy," kata petugas koroner John Hulton.

Hulton juga menemukan doketr Timothy, Dr Oliver Yang, "tidak memberikan perawatan yang memadai" kepada Timothy saat meresepkan Champix.

"Jika keluarga Timothy diberitahu oleh Dr Yang (atau oleh peringatan dalam kemasan Champix) tentang kebutuhan Timothy untuk berhenti memakai Champix dan segera menghubungi dokter jika menunjukkan gejala neuroupsikiatrik, kemungkinan keluarganya akan menganggapnya tepat... dan ada kemungkikanan kematian Timothy bisa dihindari," kata Hutton.

Nyoanya Morwood-Oldham mengatakan dia gemetar setelah temuan koroner tersebut keluar.

"Saya benar-benar ingin memeluk semua orang di ruang sidang," katanya.

Dia mengatakan  ini adalah pertempuran yang sulit karena ketidakseimbangan kekuatan antara dia dan perusahaan farmasi multinasional Pfizer. Semula bahkan dia menduga temuan tersebut tidak akan berjalan sesuai keinginannya.

"Pfizer adalah perusahaan multi-miliar dolar dan saya hanya satu orang dan mereka memiliki semua sumber daya," katanya.

"Saya merasa seperti David melawan Goliat.

"Itu berarti saya telah mencapai semua yang ingin saya capai.

"Kita akan pergi ke makam siang ini dan mengucapkan terima kasih kepada Timothy.

"Ini semacam penyebab kematian Timothy telah dibenarkan, dan saya harap ini juga membantu menyelamatkan orang lain."

Di AS, obat tersebut telah membawa peringatan kotak hitam tentang efek samping sejak 2009.

Pfizer menyelesaikan sebuah gugatan class action yang diluncurkan karena berbagai efek samping yang diajukan oleh ribuan pengguna Champix (dikenal di Amerika sebagai "Chantix"). Penyelesaian gugatan hukum tersebut diperkirakan sekitar $ 300 juta Australia alias Rp 3,1 triliun.

Tapi di Australia, dokter sampai sekarang merasa skeptis tentang hubungan antara Champix dan bunuh diri.

The Therapeutic Goods Administration (TGA) telah mengatakan bahwa peringatan tentang obat tersebut ada di situs Pfizer dan tersedia secara online.

"Saya menemukan bahwa beberapa aspek pelabelan dan instruksi produk yang diberikan pada Champix tidak memadai dan beberapa perbaikan dapat dilakukan," kata Hutton dalam temuannya.

Petugas pemeriksa mayat merekomendasikan agar Pfizer, setelah  berkonsultasi dengan TGA, melakukan perbaikan pelabelan label Champix, leaflet informasi obat-obatan konsumen dan dokumen informasi produk.

Hutton juga merekomendasikan semua layanan patologi forensik negara bagian dan teritori mengikuti jejak negara bagian Victoria dan melakukan "pemeriksaan toksikologi rutin untuk [Champix] dalam kaitannya dengan kasus bunuh diri dan kasus bunuh diri yang dicurigai".

Ini mungkin dilema yang pelik bagi perokok seperti Timothy. Mau berhenti merokok, malah mati muda karena bunuh diri... (eha)

Baca juga:

Lembaga Pemikir IEA: Perokok Baik untuk Ekonomi

Manusia Tertua di Dunia Berasal dari Jawa Meninggal di Usia 146 Tahun

Pria di Foto Peringatan Bahaya Merokok Ini Picu Kontroversi

Manusia Tertua di Dunia Asal Indonesia Rayakan Ulang Tahun ke 146

Pria Kehilangan 7 Gigi Setelah Rokok Elektrik Meledak di Wajahnya

Manusia Tertua di Dunia Ternyata Berasal dari Jawa, Berusia 145 Tahun