Mengapa Banyak Pria Mati karena Bunuh Diri?

Rabu, 4 Juli 2018 13:01
Mengapa Banyak Pria Mati karena Bunuh Diri?

Sooperboy.com - Menurut data terbaru Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit tentang bunuh diri atau Centers for Disease Control and Prevention data on suicide, pria adalah 77 persen dari 45.000 orang yang bunuh diri setiap tahun di Amerika Serikat.

Demikian pula di tingkat global. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, pria yang meninggal karena bunuh diri jumlahnya lebih banyak daripada wanita di mana pun di dunia —dengan rasio mulai dari 1,5:1 hingga 3:1— membentuk mayoritas lebih dari 800.000 orang yang bunuh diri setiap tahun.

Menurut Slate, Rabu 4 Juli 2018, secara global, bunuh diri mewakili setengah dari kematian akibat kekerasan dari laki-laki.

Untuk alasan yang jelas, memahami mengapa seseorang pria memutuskan mengakhiri hidupnya, sulit untuk dipelajari. Tetapi jika ingin berharap untuk mencegah bunuh diri, agaknya perlu membicarakan mengapa hal itu sangat mempengaruhi laki-laki.

Dalam sebuah survei, organisasi Promundo, yang didukung oleh Axe, menyatakan dari 1.500 pria muda berusia 18–30 tahun, ditemukan bahwa hampir 1 dari 5 pria berpikir tentang bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Pria muda mana yang lebih cenderung berpikir tentang bunuh diri? Mereka itu adalah mereka yang percaya pada versi kejantanan yang terkait dengan bersikap keras, tidak berbicara tentang masalah mereka, dan menyembunyaikan  emosi. Mereka dua kali lebih mungkin untuk mempertimbangkan bunuh diri.

Studi di negara lain juga menemukan hal yang sama, yaitu bahwa pria dengan ide yang lebih kusat tentang maskulinitas lebih cenderung berpikir tentang bunuh diri daripada pria muda yang tidak begitu terjebak dalam "mitos pria sejati."

Jadi apa yang menyebabkannya? Menjadi seorang pria di AS, dan di seluruh dunia, terlalu sering diajarkan untuk menekan pengalaman emosional, begitu banyak sehingga sebagai pria, kita sering kali bahkan tidak memiliki bahasa untuk mengekspresikan atau memahami emosi kita.

Beberapa psikolog menyebutnya alexithymia ini —ketidakmampuan untuk berhubungan dan mengkomunikasikan emosi— dan mengidentifikasikannya sebagai lebih menonjol pada laki-laki.

Cukup sederhana, jika pria tidak dapat mengenali emosi negatif, mereka tidak dapat atau tidak paham mencari bantuan, sehingga mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika mereka menghadapi maslah emosional.

Berikut contoh cara kerjanya. Dalam studi Promundo dengan pria muda, secara konsisten pria muda mengatakan bahwa kemarahan dan kebahagiaan adalah emosi yang paling mudah untuk diungkapkan. Bagaimana dengan kasih sayang, kesedihan, atau rasa takut? Tidak mungkin, kata mereka. Pria sejati tidak bisa menunjukkan hal itu.

Menjadi seorang pria di AS, dan di seluruh dunia, terlalu sering berarti belajar untuk menekan pengalaman emosional, begitu banyak sehingga  sebagai pria sering kali bahkan tidak memiliki bahasa untuk mengekspresikan atau memahami emosi.

Ide tentang meminta bantuan dipandang lemah, feminin, atau bahkan gay. Mencari dukungan medis dan dukungan kesehatan mental oleh laki-laki tidak hanya tidak disukai, tetapi juga dilihat sebagai tidak jantan. Bahkan mengenali rasa sakit —fisik atau emosional— adalah risiko yang akan disampaikan teman-teman atau keluarga laki-laki bahwa Anda bukan “lelaki sejati.”

Analisis baru-baru ini CDC tentang faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan tingkat bunuh diri di AS, yang dirilis tanggal 7 Juni, terbaca seperti daftar sifat maskulin yang tidak proporsional: masalah kesehatan mental (sering tidak diobati atau tidak terdiagnosis); alkohol atau penggunaan narkoba (lebih tinggi untuk laki-laki daripada perempuan dan sering menjadi pelipur lara untuk kegagalan kedewasaan); masalah sosial atau pribadi (yang pria tidak seharusnya mencari bantuan); dan akses ke senjata api (sekali lagi, kebanyakan pria).

Bunuh diri jauh lebih umum di antara pria kulit putih di AS, kategori pria yang sama yang merasa dunia berutang pekerjaan yang stabil, dan rasa hormat yang datang dengan itu.  

Sudah diketahui bahwa pria di atas usia 60 tahun adalah mereka yang paling mungkin mati dengan bunuh diri. Beberapa di antaranya mungkin merupakan respons terhadap sakit kronis dan kesehatan yang menurun.

Tetapi banyak dari kematian ini tidak diragukan lagi merupakan cara  bagaimana kita memperlakukan pria yang lebih tua dan orang tua secara umum. Yaitu karena tubuh dan kejantanan mereka menurun, mereka merasa tidak diinginkan di dunia yang menginginkan dan memberi hak istimewa pada tubuh muda yang mampu.

Tambahkan fasktor isolasi sosial pria lansia di banyak bagian dunia terhadap wanita. Sebuah survei nasional AARP di AS menunjukkan bahwa 1 dari setiap 3 orang dewasa di atas usia 45 tahun sekarang melaporkan merasa kesepian, sedangkan hanya 1 dari setiap 5 orang dewasa yang dilaporkan merasa kesepian 10 tahun yang lalu.

Studi lain di Jerman menemukan pria lajang lebih mungkin melaporkan merasa kesepian daripada wanita lajang —tantangan yang semakin meningkat karena menurunnya tingkat pernikahan.

Singkatnya, kecenderungannya bagi pria untuk menjadi lebih kesepian atau setidaknya lebih mungkin untuk hidup sendiri, faktor yang juga mempengaruhi keputusan bunuh diri. Kesimpulan yang bisa diambil dari sini adalah bahwa pria, ketika  terputus secara emosional dari diri mereka sendiri dan orang lain, amat berisiko melakukan bunuh diri.

Wanita lebih mungkin mencoba bunuh diri, hampir dua kali lebih mungkin menurut beberapa penelitian. Tetapi laki-laki dua sampai empat kali lebih mungkin untuk melaksanakannya. Itu karena cara mereka mencoba bunuh diri: Tidak seperti wanita, pria cenderung menggunakan senjata api. Mungkin tergoda untuk mengatakan bahwa pria lebih cenderung memiliki dan menggunakan senjata api untuk bunuh diri dan dengan demikian lebih mungkin untuk bunuh diri. Tetapi hubungan antara kedewasaan dan kepemilikan senjata adalah masalah tersendiri.

Dari studi lain yang baru-baru ini dilakukan bahwa pria muda yang ditindas — termasuk mereka yang diganggu untuk orientasi seksual mereka — lebih cenderung memiliki gejala depresi, faktor risiko utama untuk bunuh diri. Bullying memiliki ciri khas laki-laki yang jelas: yaitu, sering dilakukan oleh pria muda terhadap pria muda lainnya sebagai cara untuk mengawasi perilaku mereka atau penampilan mereka dan untuk memperkuat kekuasaan.

Sejauh ini kita tahu: Tidak ada sebab tunggal atau penyebab bunuh diri. Yang pasti, itu jauh lebih kompleks daripada sekadar menghubungkannya dengan norma-norma sosial yang berbahaya tentang maskulinitas.

Semua seharusnya tidak berhenti melakukan hal-hal lain yang sudah dilakukan untuk mencegah bunuh diri. Tetapi semua hal itu akan bekerja lebih baik jika kita mengambil langkah berani berbicara tentang hubungan antara bunuh diri dan cita-cita sosial masyarakat tentang kedewasaan dan maskulinitas pria.

Itu tidak berarti perlu memberitahu pria bahwa mereka buruk atau rusak hanya karena menjadi pria. Masa dewasa bukanlah gangguan kesehatan mental. Tetapi yang menjadi masalah membesarkan putra-putra untuk menindas diri mereka yang terganggu, tidak mencari bantuan, menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah mereka, dan berpikir bahwa menunjukkan kelemahan atau mengakui depresi atau masalah kesehatan mental lainnya adalah hal yang tidak jantan.

Sudah waktunya publik berbicara lebih banyak tentang bunuh diri. Dan tentang apa yang harus dilakukan dengan cara-cara berbahaya orangtua  membesarkan putra-putra mereka.

Mitos kejantanan memang harus diubah. Agar bunuh diri pada pria bisa diminimalisir hanya karena dia malu membicarakan masalah emosi yang dia rasakan karena merasa tidak jantan. (eha)

Baca juga;

Vokalis Linkin Park Akhiri Hidup dengan Cara Gantung Diri

Obat Anti-Merokok Champix Mendorong Pria Ini Bunuh Diri

Mahasiswa Ini Jadi Pahlawan Setelah Gagalkan Aksi Bunuh Diri

Pria Pekerja di Sektor Maskulin Berisiko Tinggi Lakukan Bunuh Diri

Pria Ini Sudah Cegah 40 Orang Bunuh Diri dari Jembatan Yangtze

13 Truk Berjajar di Bawah Jembatan untuk Selamatkan Pria yang Ingin Bunuh Diri