Lembaga Pemikir IEA: Perokok Baik untuk Ekonomi

Kamis, 10 Agustus 2017 11:04
Lembaga Pemikir IEA: Perokok Baik untuk Ekonomi

Sooperboy.com - Sebuah lembaga pemikir di Inggris menemukan, perokok menyumbang hampir 15 miliar pound atau Rp 260 triliun karena penerimaan pajak dan penghematan dari kematian dini perokok.

Menurut The Telegraph, Kamis 10 Agustus 2017, lembaga pemikir Institute of Economic Affairs (IEA) menghitung biaya akibat merokok hanya sebesar 4,7 miliar pounds atau Rp 75 triliun.

Biaya 4,7 miliar pound itu sudah termasuk biaya pengobatan penyakit, ongkos pembuangan sampah akibat rokok, dan biaya kebakaran rumah akibat rokok.

Tapi kelebihan pajak yang disetor perusahaan tembakau bisa menghasilkan 9,5 miliar pound atau Rp 164 triliun per tahun dan pemerintah bisa menghemat 9,8 miliar pound atau Rp 170 triliun untuk pembayaran uang pensiun, perawatan kesehatan dan pembayaran lainnya karena kematian dini perokok.

Lembaga pemikir ini menuduh para politisi telah "mengkambinghitamkan" perokok, peminum dan penderita obesitas, dan mengklaim dana sebesar 24,7 miliar pound atau Rp 430 triliun didapat dari "pajak dosa" yang menyumbang jauh lebih tinggi dari sumbangan pajak sektor keuangan publik mana pun.

"Secara keseluruhan, keuangan publik di Inggris akan menjadi 22,8 miliar atau Rp 390 triliun lebih buruk ketika tidak ada perokok, peminum dan penderita obesitas," tulis riset IEA itu di laporannya.

Salah satu penulis laporan IEA itu, Christopher Frieddon, mengatakan, "Kami terus-menerus diberitahu bahwa orang-orang yang memilih untuk minum, merokok atau makan terlalu banyak adalah beban bagi pembayar pajak Inggris."

"Inilah salah satu alasan mengapa kita telah melihat kenaikan pajak rokok dan alkohol, dan tak lama lagi pajak buat gula. Tapi pembenaran untuk kenaikan pajak itu hanya berlandaskan ilusi," katanya.

"Perokok, peminum dan mereka yang mengalami obesitas benar-benar memberikan keuntungan bersih bagi keuangan publik. Jadi memfitnah mereka adalah usaha sia-sia...," ujarnya.

"Setelah ditimbang secara cermat, bukti menunjukkan bahwa kepercayaan umum bahwa biaya akan turun jika orang hidup lebih sehat dan lebih lama adalah keliru," tegasnya.

Menurut dia, meskipun bagus membuat harapan hidup manusia lebih lama, pembuat kebijakan juga harus membahas bagaimana menutupi konsekuensi kekurangan finansial yang timbul ketika semua gaya hidup yang disebut tak sehat itu dilarang.

Sejauh ini temuan IEA ini belum mendapat tanggapan dari pemerintah Inggris. (eha)

Baca juga:

Manusia Tertua di Dunia Ternyata Berasal dari Jawa, Berusia 145 Tahun

Manusia Tertua di Dunia Asal Indonesia Rayakan Ulang Tahun ke 146

Manusia Tertua di Dunia Berasal dari Jawa Meninggal di Usia 146 Tahun