Museum Seni di Jakarta Ini Jadi Sorotan Dunia

Selasa, 28 November 2017 14:31
Museum Seni di Jakarta Ini Jadi Sorotan Dunia

Sooperboy.com - Sebuah museum seni yang baru berdiri di Jakarta, menjadi sorotan dunia.

Tak kurang dari media berpengaruh macam New York Times, menurunkan berita dengan judul "Thanks to One Man’s Collection, Jakarta Now Has a World-Class Museum."

Menurut New York Times, Selasa 28 November 2017, museum itu adalah Musuem Macan (Modern and Contemporary Art in Nusantara). Museum itu beralamat di Wisma Akr, Jalan Panjang No 5, RT 11/ RW 10, Kebun Jeruk, Kota, Jakarta Barat.

Untuk kota dengan ukuran sangat besar, dihuni oleh 10 juta orang, menurut New York Times Jakarta belum memiliki banyak hal yang bisa diharapkan dari sebuah kota metropolitan Asia yang berkembang. Selain sistem kereta api cepat, salah satunya adalah ketiadaan museum seni modern dan kontemporer modern untuk tingkat internasional.

Sistem kereta api cepat LRT baru akan beroperasi pada 2019, namun museum seni kontemporer telah datang lebih cepat lagi. Pada tanggal 4 November, Museum Seni Modern dan Kontemporer di Nusantara, yang dikenal sebagai Museum Macan, membuka pintunya untuk umum, dengan koleksi barang seni dari 800 karya kontemporer dan modern milik Haryanto Adikoesoemo, pendiri museum, seorang pengusaha properti dan bahan kimia di Indonesia.

Ia seorang taipan sekaligus kolektor seni yang luar biasa. Terletak di lantai menara berbentuk tapal kuda di bagian barat kota, museum itu pada hari-hari pertamanya mengejutkan kerumunan orang Jakarta dengan instalasi cahaya fantasmagorik seperti "Infinity Mirrored Room - Brilliance of the Souls" karya Yayoi Kusama, di samping pameran lukisan klasik modernis karya Raden Saleh.

Adikoesoemo, 55 tahun, berkata dia bertekad untuk menambah apresiasi seni di kota Jakarta yang terkenal dengan pusat perbelanjaan mewah dan lalu lintas yang mengerikan.

"Jika saya pergi ke Eropa, saya pergi ke museum untuk relaksasi," kata Adikoesoemo ke New York Times sambil duduk di pinggir tempat duduknya di ruang makan rumah keluarganya di jantung kota Jakarta. "Indonesia masih belum memiliki budaya itu."

Adikoesoemo, salah seorang pendana di Hirshhorn Museum and Sculpture Garden di Washington, telah mengumpulkan koleksi seni selama lebih dari 20 tahun.

Ia telah mengumpulkan koleksi campuran yang merupakan perpaduan antara seniman Indonesia modernis seperti Affandi, seniman kontemporer Barat seperti Jean-Michel Basquiat dan Jeff Koons, dan seniman kontemporer terkemuka dari Jepang dan China, termasuk Kusama dan Ai Weiwei.

Sementara koleksi eklektisisme itu dapat menimbulkan tantangan bagi kurator yang mencoba membuat pameran dari koleksi pribadi Adikoesoemo, Direktur Museum Macan, Aaron Seeto, menegaskan bahwa keragaman itu adalah anugerah.

"Salah satu hal yang benar-benar kita lihat dalam program ini adalah menyajikan Indonesia di mata dunia, melakukan percakapan antara Indonesia dan tempat lain," kata Seeto, seorang warga Australia. "Inilah yang bisa dilakukan museum di seluruh dunia, tapi koleksi mereka tidak memungkinkan mereka melakukannya."

Sebuah pameran awal menampilkan sejarah seni Indonesia, menyoroti karya-karya Raden Saleh, pelukis Romantis abad ke-19 Indonesia yang tinggal di Eropa selama dua dekade, untuk menunjukkan bagaimana gerakan seni Indonesia dipengaruhi oleh tren internasional.

Sementara, sebagian besar karya yang ditampilkan di museum berasal dari koleksi pribadi Adikoesoemo. Dia juga mengaku telah berinvestasi di fasilitas perawatan seni mutakhir yang, katanya, akan memungkinkan museum tersebut untuk menampilkan karya-karya pinjaman dari berbagai museum internasional di dunia.

Menciptakan Museum Macan telah menjadi impian selama satu dekade terakhir untuk Adikoesoemo, yang usaha awalnya untuk mengumpulkan karya seni sempat terganggu oleh krisis keuangan Asia pada tahun 1997 dan 1998, ketika keluarganya hampir kehilangan segalanya.

Saat krisis itu, dia dipaksa untuk menjual semua koleksinya yang paling berharga --termasuk lukisan Renoir dan Picasso yang dicintainya -- untuk membayar utang ke kreditor. "Saya butuh uang, jadi saya harus menjual semua koleksi impresionis saya," katanya sambil tersenyum. "Krisis itu sangat berat."

Adikoesoemo lahir dari keluarga kelas menengah di Jawa Timur pada awal 1960-an. Saat Adikoesoemo duduk di sekolah menengah, usaha ayahnya, Soegiarto Adikoesoemo di bidang kimia, pabrik tektsil dan kebun karet tengah berkembang.

(Haryanto Adikoesoemo, kolektor lukisan dan pendiri Museum Macan)

Dengan memperhatikan masa depannya dalam bisnis keluarga, Adikoesoemo kemudian dikirim ke Universitas Bradford di Inggris. Di sana dia mendapatkan gelar di bidang manajemen bisnis. Saat dia muda, dia akui dia kurang tertarik pada seni. "Saya selalu ingin menjadi pengusaha sejak saya masih muda," katanya.

Pandangan Adikoesoemo pada seni mengalami kebangkitan pada awal 1990-an, saat ia mengunjungi vila seorang teman di pulau Bali. Teman itu "memiliki begitu banyak karya seni di dinding," kata Adikoesoemo. "Rumahnya menjadi sangat berwarna-warni, sangat semarak, sangat menyenangkan, jadi itu membuat saya berpikir, 'Mungkin sebaiknya saya mulai mengumpulkan karya seni untuk diletakkan di dinding rumah saya.'"

Adikoesoemo kemudian mulai membeli karya seni Indonesia, dan kemudian pada tahun 1996 juga mulai mengoleksi lukisan modernis dunia, termasuk karya Picasso.

Tapi saat-saat indah itu tidak berlangsung lama. Krisis keuangan Asia melanda pada tahun 1997, sehingga nilai tukar rupiah Indonesia anjlok. Adikoesoemo telah menyarankan ayahnya untuk berutang untuk mengembangkan bisnis dengan cepat, dan krisis tersebut telah membuat utang perusahaan membengkak.

Ayahnya pernah mengatakan kepadanya bahwa Adikoesoemo gila karena telah menginvestasikan begitu banyak uang untuk lukisan-lukisan Barat. Tapi saat krisis ekonomi itu datang, lukisan Picasso dan Renoir tiba-tiba berada di antara harta keluarga yang paling berharga.

Adikoesoemo menjual karya seni Barat itu sebagai bagian dari kesepakatan restrukturisasi utang dengan 28 bank asing. "Saat itu, ayah saya berusia 63 tahun, jadi dia berkata: 'Terserah kamu. Jika kamu bisa menyelesaikannya, kamu bisa mengatasinya, itu milik kamu. Jika kamu tidak bisa menyelesaikannya, tidak ada pengaruh apa-apa untuk kamu, '" kenang Adikoesoemo.

Pada awal tahun 2000an, dengan pulihnya ekonomi Indonesia, Adikoesoemo berhasil membayar kembali utang dan mengembalikan bisnis keluarga.

Dia tidak pernah lupa bahwa Picasso dan Renoir telah menyelamatkan nyawanya. "Saya menyadari seni adalah investasi. Bila Anda membutuhkan, uang Anda masih bisa mendapatkan nilai dari karya itu," katanya.

Tapi, ketika dia kembali membeli karya seni di awal tahun 2000an, harga telah meroket. Jadi dia mengalihkan fokus terutama membeli karya seni kontemporer.

Selain menjadi investasi yang kokoh, potongan seni kontemporer bekerja dengan baik di rumah minimalisnya, dengan langit-langitnya yang tinggi, jendela besar dan dinding putih. "Seni kontemporer, yang sangat berwarna, sesuai dengan warna putih," kata Adikoesoemo.

Namun dia mengakui bahwa ketika dia mendirikan sebuah museum, dan membuka koleksi pribadinya ke seluruh dunia, hal itu hadir dengan taruhan yang jauh lebih tinggi daripada mendapatkan seni yang terlihat bagus di rumahnya.

Dia bahkan membandingkannya dengan kegelisahan memulai bisnis baru. "Sama saja," katanya. "Kecemasan, ini menimbulkan banyak kegembiraan dan tekanan adrenalin." (eha)

Baca juga:

Manusia Tertua di Dunia Ternyata Berasal dari Jawa, Berusia 145 Tahun

Pria Indonesia Ditelan Ular Piton Gemparkan Dunia

Pemilik Penis Terpanjang di Dunia Ditawari Main Film Porno

Pria Penayang Video Porno di Papan Iklan Jakarta Jadi Sorotan Dunia

Manusia Tertua di Dunia Berasal dari Jawa Meninggal di Usia 146 Tahun