Ini Alasan Penjudi Tak Bisa Berhenti Berjudi Meskipun Kalah

Jumat, 19 Agustus 2016 15:12
Ini Alasan Penjudi Tak Bisa Berhenti Berjudi Meskipun Kalah

Sooperboy.com - Tak ada yang suka kalah --bahkan mereka yang kecanduan judi. Tapi tetap saja mereka terus bertaruh. Jika bandar selalu menang, kenapa mereka tidak berhenti berjudi? Orang-orang yang kecanduan judi mengatakan bahwa, meski kekalahan mereka bertumpuk, ada rasa penasaran yang membawa mereka kembali ke meja kartu atau mesin slot.

“Saya mau berjudi setiap waktu,” kata seorang mantan penjudi yang pulih pada Scientific American pada 2013. “Saya menyukainya —saya suka perasaan yang saya dapatkan." katanya seperti dikutip BBC News, Jumat 19 Agustus 2016.

Dan baru-baru ini, seorang eksekutif Wall Street mengakui bahwa dia menipu keluarganya, teman dan orang lain sampai US$100 juta atau sekitar Rp1,3 triliun lebih untuk membiayai hobinya itu.

“Itu hanya satu cara agar saya bisa dapat uang untuk memenuhi kecanduan berjudi saya,” katanya pada pengadilan.

Tapi jika seseorang kehilangan uang --mungkin malah kehilangan pekerjaan atau rumah sebagai dampak berjudi-- bagaimana bisa rasa kepuasan itu melebihi pengorbanan mereka?

Hal pertama yang harus diingat adalah, orang berjudi bukan hanya karena prospek menang. Mark Griffiths, seorang psikolog di Nottingham Trent University yang spesialisasinya adalah perilaku kecanduan mengatakan bahwa penjudi punya banyak motivasi atas kebiasaan mereka itu.

Dalam survey terhadap 5.500 penjudi, prospek untuk “memenangkan uang banyak” adalah faktor terkuat. Tapi kemudian diikuti dengan “karena ini menyenangkan” dan “karena ini seru”.

“Bahkan ketika Anda kalah berjudi, tubuh Anda masih menghasilkan adrenalin dan endorfin,” katanya.

“Orang membeli hiburan.”

Temuan ini didukung oleh penelitian 2009 oleh peneliti dari University of Stanford di California, yang menemukan bahwa sekitar 92% orang sudah “kehilangan batasan” dasar yang tak bisa mereka lepaskan.

Bahkan ketika seseorang kalah berjudi pun, ada kepuasan yang membuat mereka terus bertaruh.

Meski begitu, fakta bahwa mereka kehilangan uang setelah mengunjungi kasino, contohnya, tak mempengaruhi kenikmatan mereka pada pengalaman tersebut.

“Orang tampaknya cukup puas dengan kemenangan kecil, dan mereka akan memberi toleransi pada kerugian kecil,” kata salah satu penulis penelitian, Sridhar Narayanan, pada waktu itu.

“Mereka sadar bahwa dalam jangka panjang, mereka akan kalah daripada menang.”

Dan untuk sementara, kalah bisa mendorong respons positif terhadap kemenangan. Hal ini disebabkan oleh ekspektasi penjudi terhadap kemenangan berubah saat mereka kalah terus-menerus.

Robb Rutledge, seorang ilmuwan ahli saraf di University College, London, dan koleganya melakukan eksperimen terhadap 26 subjek yang otaknya dipindai saat mereka melakukan serangkaian pilihan, masing-masing pilihan bisa menunjukkan hasil pasti dan tak pasti –-sebuah perjudian.

Peserta juga diminta untuk menilai skala kebahagiaan mereka setelah setiap mereka mendapat giliran atau setelah tiga kali dapat giliran menebak. Dan sebuah eksperimen serupa –-tanpa pemindaian otak-– dilakukan pada lebih dari 18.000 peserta di sebuah aplikasi smartphone, The Great Brain Experiment.

Berbagai temuan menarik, tim menemukan bahwa ketika peserta memiliki harapan lebih kecil bahwa mereka akan menang, respons mereka terhadap mendapatkan balasan yang setimpal menjadi naik.

 

Ini kemudian dibuktikan baik oleh laporan subjek bahwa mereka merasa bahagia dan data dari pemindaian fMRI. Pemindaian ini menunjukkan aktivitas peningkatan di area otak yang terhubung dengan saraf dopamin.
Dopamin, sebuah pemancar saraf yang kompleks, dalam hal ini bisa terhubung dengan perubahan dalam kondisi emosional.

“Jika orang kalah banyak, itu akan menurunkan harapan mereka, dan ini akan meningkatkan kegembiraan mereka ketika mereka menang,” kata Rutledge.

Rasa ini saja sudah cukup menggoda.

“Jika beberapa hal buruk terjadi berturutan pada Anda maka ekspektasi Anda turun – tapi kemudian Anda mendapat sesuatu hasil yang baik, dan Anda mungkin akan lebih bahagia,” katanya.

“Walaupun di poin ini, Anda seharusnya sudah pergi.”

Ketika seseorang kalah berturut-turut dalam berjudi, ketika mereka menang, maka mereka akan lebih merasa senang.

Tapi apakah alat-alat seperti mesin judi bisa aktif melakukan manipulasi? Griffiths menulis tentang tanda atau petunjuk yang diberikan oleh mesin permainan elektronik pada pemain.

Tak banyak yang diketahui tentang desain mesin tersebut pada perilaku pemain, tapi, contohnya, banyak mesin dan kasino menggunakan warna merah atau yang serupa –-yang dianggap lebih merangsang.

Lalu ada juga bunyi dan suara. Griffiths memikirkan kemungkinan bahwa ejekan dari sebuah mesin yang meranmpilkan karakter antagonis di The Simpsons mempengaruhi pemain.

Misalnya, ketika pemain kalah, karakter Mr Smithers mengatakan, “Anda dipecat!”

“Sejalan dengan hipotesis yang mendukung teori frustrasi dan penyesalan kognitif, sehingga ini bisa membuat alat permainan judi lebih menggoda,” tulis Griffiths dalam satu makalah.

Salah satu faktor kunci bagaimana mencandunya judi adalah seberapa sering seorang pemain bisa bertaruh.

Karena ketersediaan kesempatan untuk berjudi berhubungan dengan tingkat masalah kecanduan judi di suatu masyarakat, maka Griffiths mengatakan bahwa jumlah imbalan yang bisa diberikan – dan bukan imbalan sebenarnya atau malah jenis judinya – yang memunculkan penjudi patologis.

Permainan dan mesin kadang dirancang untuk terus membuat pemain berminat dengan menawarkan hadiah pengganti, seperti kredit tambahan atau -–setelah kalah-– kemungkinan menang lebih besar daripada biasanya dalam kesempatan berikutnya.

Masih sedikit penelitian yang melihat bagaimana mesin permainan dirancang untuk merangsang orang untuk terus berjudi.

“Jika Anda memberi imbalan-imbalan kecil yang tak melulu uang, maka orang akan tetap merespons,” kata Griffiths.

Dan yang menarik, ada contoh kasus di mana penjudi mengembangkan “skill-bayangan” sebagai sebuah pembenaran untuk mendapatkan kemungkinan imbalan tersebut.

Griffiths mencontohkan mesin permainan di Inggris yang dirancang dengan logika adaptif bahwa alat tersebut akan memberikan lebih banyak daripada yang diberikan oleh konsumen dalam periode-periode tertentu, dan sesudahnya alat akan kembali ke sistem biasa.

Artinya beberapa pemain akan berusaha mencari (atau men-“skim”) mesin yang belum memberikan jackpot, dengan harapan mereka ada di mesin itu saat mesin memberi jackpot.

Semua temuan penelitian ini menyimpulkan bahwa judi tak selalu soal menang, melainkan justru proses bertaruhnya itu – dan faktor-faktor lain di sekitarnya yang membuatnya menyenangkan.

Meski kecanduan berjudi tak bisa dijelaskan dengan sederhana – kadang ada banyak alasan yang memunculkan kecanduan pada seseorang – tapi tentu menarik untuk melihat bagaimana keseruan itu terkait pada struktur dan gaya permainan yang dimainkan.

Dan bahkan ketika judi bukanlah obsesi yang bermasalah, tetap saja permainan itu menghibur bagi mereka yang pulang dengan kantong kosong.

Maka, bertaruh pada warna merah atau hitam? Tapi sepertinya itu tak jadi soal. (eha)