Bernard Arnault: Bagaimana Pria Terkaya di Prancis Ini Bertahan di Bisnis Fashion

Selasa, 15 Mei 2018 11:31
Bernard Arnault: Bagaimana Pria Terkaya di Prancis Ini Bertahan di Bisnis Fashion

Sooperboy.com - Bernard Arnault adalah orang terkaya keempat di dunia dengan kekayaan diperkirakan lebih dari U$ 80 miliar atau Rp 1.026 triliun. Dia adalah CEO grup produk fashion mewah Prancis, LVMH.

Menurut CNBC, Selasa 15 April 2018, sampai sekarang Arnault, 69 tahun, bisa menjaga keseimbangan yang baik antara kreativitas dan perdagangan. Lantas bagaimana dia mempertahankan perusahaannya di puncak mode dunia?

Ketika Arnault bertemu Steve Jobs, mereka sempat berdiskusi tentang produk mereka: Arnault menjalankan kerajaan barang mewah dan Jobs membuat smartphone iPhone jadi sangat populer.

"Anda tahu Bernard, saya tidak tahu apakah dalam 50 tahun ke depan iPhone saya akan tetap sukses, tetapi saya dapat memberi tahu Anda, saya yakin semua orang akan tetap minum sampanye Dom Pérignon Anda," kata Steve Jobs.

Jobs sedang berpikir tentang membuka toko Apple pada saat itu dan dikecam keras karena melakukan hal itu. Kata Arnault:  “Setiap kompetitornya mengatakan dia itu gila karena ingin membuka toko untuk Apple. Jelas, mereka salah,” katanya.

Jobs, penyedia teknologi baru di Amerika, dan pengusaha Prancis Arnault, pelindung merek-merek mewah yang sudah berumur berabad-abad, mungkin tidak tampak seperti teman yang karib, tetapi pendiri Apple memiliki "kombinasi kreativitas dan rasa tajam tentang bagaimana mengelola pertumbuhan.

Untuk menjalankan LVMH atau Louis Vuitton Moët Hennessy, Arnault harus menjaga keseimbangan antara sisi kreatif dan kebebasan mengendalikan bisnis yang menghasilkan 42,6 miliar euro atau U$ 50,6 miliar (Rp 685 triliun) dalam neraca pendapatan perusahaan di tahun 2017. Pendapatan itu naik 13 persen dari tahun sebelumnya. Padahal dunia mode adalah dunia yang sangat gampang berubah.

Arnault memimpin grup LVMH, terdiri dari 70 perusahaan dari label mode Louis Vuitton, Christian Dior dan Dom Pérignon, sebuah sampanye yang telah ada sejak 1668. Juga merek jam tangan mewah Hublot dan TAG Heuer dan  perhiasan Bulgari, bersama dengan merek-merek baru seperti vodka Belvedere dan anggur merah China Ao Yun. Kepemilikan saham keluarganya  46 persen di LMVH yang  telah membantu membuatnya menjadi orang terkaya di Prancis.

Menurut Chief Executive Goldman Sachs, Lloyd Blankfein, keahlian Arnault adalah dalam mewujudkan permintaan untuk produk-produk kelas atas di seluruh dunia. "Dia adalah seorang visioner yang lengkap. Dia melihat peningkatan kekayaan di dunia," kata Blankfein.

“Untuk bisnis barang mewahnya, dia harus memikirkan apakah ada pertumbuhan di dunia, di mana pertumbuhan itu terjadi dan yang sangat penting, apa yang akan mereka bayar dan apa yang akan mereka inginkan," ujarnya.

Arnault karenanya harus menjadi peramal tren yang akurat, dan memiliki portofolio yang membantunya mengurangi risiko satu merek tersingkir dari tren mode dunia. “Tidak semua merek Anda akan laku sepanjang waktu, (portofolio) memungkinkan Anda untuk berurusan dengan ... keniscayaan bahwa kadang-kadang Anda akan memiliki merek yang akan mencapai titik tertinggi dan terindah di fashion,” kata Allen Adamson, ahli pencitraan merek dan pendiri lembaga konsultasi Metaforce.

Arnault lahir di Roubaix, Prancis utara, pada tahun 1949. Setelah lulus dengan gelar insinyur ia bergabung dengan bisnis konstruksi keluarga. Pada usia 27 tahun, dia meyakinkan ayahnya Jean Leon Arnault untuk menjual bisnis bangunan perusahaan dan memindahkan fokus ke real estat.

“Prancis sangat konservatif pada waktu itu. Anda tidak melakukan itu, terutama pada usia itu. Dia masih berusia dua puluhan. Dan itu sangat tidak biasa bagi seseorang seusianya untuk mengambil keputusan semacam itu,” kata Burke.

Tapi itu adalah langkah Arnault berikutnya yang membuktikan salah satu tujuannya yang paling ambisius. Pada pertengahan 1980-an, dia melobi pemerintah Prancis untuk membiarkan dia mengambil alih perusahaan tekstil Boussac, sebuah perusahaan yang 20 kali lebih besar dari bisnis keluarganya. Sebuah profil majalah New York Times pada tahun 1989 menyebut Arnault sebagai “superstar yang telah meningkat secara spektakuler untuk menjadi kepala perusahaan barang mewah terbesar di dunia,” yang baru berusia 40 tahun, setelah mendirikan LVMH dua tahun sebelumnya.

Dia menjual properti Boussac di rumah mode Christian Dior dan toko serba ada Le Bon Marché, dengan Dior tetap menjadi bagian dari Groupe Arnault hingga 2017, ketika akhirnya terjadi kesepakatan membawanya ke bawah grup LVMH. Tapi ketika dia membeli Dior, merek itu tengah tenang, menurut Anna Wintour, direktur artistik di Conde Naste dan kepala editor dari Vogue AS.

“Dior adalah rumah ‘perayu’ yang dipakai para wanita Prancis yang bagus untuk makan siang dan itu sama sekali tidak menciptakan mode, membuat fashion. Tidak ada kegembiraan di sekitarnya. Itu sangat tenang dan sangat aman," kata Wintour. "Jadi Arnault benar-benar mengguncangnya,  dengan menyewa John Galliano untuk menjadi perancangnya  dan pembenahan merek."

Fondation Louis Vuitton adalah museum yang disponsori LVMH, tempat konser dan ruang acara di Paris, yang dibuka pada tahun 2014. Arnault telah bertemu arsitek Frank Gehry di Museum Guggenheim di Bilbao pada tahun 2001 di mana dia mendiskusikan ide untuk sebuah yayasan tetapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum menjadi kenyataan, karena teknis desain dan kritik yang menentangnya.

Digambarkan sebagai "awan yang transparan," bangunan itu terdiri dari 12 layar kaca besar yang menampung 11 galeri. “Dia banyak berpikir seperti seorang seniman,” kata Gehry tentang Arnault. “Saya pikir dalam kehidupan bisnis dan dunianya dia harus berhati-hati, konservatif. Tetapi dia senang bekerja sebagai orang yang kreatif karena dia terbuka pada ide ... Dia mengatakan 'Bagaimana jika?' ... dia mengatakan hal-hal dengan sangat lembut, tetapi saya tahu, ketika dia mengatakannya, dia bersungguh-sungguh. Dan saya melakukannya dan kemudian kami mencoba mewujudkannya. ”

Sekarang, empat dari lima anak kandung Arnault sudah terlibat dalam perusahaan. Anaknya, Antoine, 40 tahun, menjalankan merek barang kulit Italia milik LVMH, Berluti, dan menjadi direktur perusahaan kasmir, Loro Piana. Dia ingat melihat kenaikan karir ayahnya saat dia tumbuh dewasa.

“Saudara perempuan saya dan saya hidup dalam kreasi kelompok tersebut. Ketika kami tumbuh dewasa, dia tidak hidup dalam kemewahan, dia berada di bisnis real estat. Untuk melihat kenaikan yang luar biasa ini dari ya, seorang pengusaha real estat yang sangat sukses tetapi dalam skala yang lebih kecil, kesuksesan besar ini sangat luar biasa,” katanya. Berumur 11 atau 12 tahun, Antoine akan melihat ayahnya di TV dan di koran. “Jadi sedini mungkin, kami mengerti ada sesuatu yang terjadi.”

Anaknya yang lain, Delphine, 43 tahun, adalah direktur dan wakil presiden eksekutif di Louis Vuitton dan menjalankan LVMH untuk perancang busana muda, sementara Alexandre, 25 tahun, adalah kepala eksekutif perusahaan merek bagasi Jerman, Rimowa. Sementara itu. Sementara anaknya yang lain, Frédéric, 23 tahun, adalah kepala teknologi di Tag Heuer.

Tapi sementara bisnis adalah tentang jabatan yang lebih tinggi dan bergelimang kemewahan, Arnault tidak tersentuh, kata Antoine. “Orang membayangkan dia di menara besar dengan lembar Excel dengan angka. Itu sangat jauh dari kenyataan. Minat sebenarnya adalah keluarganya. Tentu saja, dia gila kerja. Dia banyak bekerja dan dia menyukainya, tapi ... dia juga bersenang-senang dengannya. Itu tidak seserius yang mungkin dipikirkan oleh beberapa orang,” kata Antoine.

Tetapi itu bukan bagaimana bisnis keluarga ini membuat kemajuan: “Jika saya setuju dengannya, saya akan memberitahunya. Tetapi jika tidak, saya tidak akan pernah ragu untuk memberitahunya juga. Dan terkadang kami tidak setuju dan bisa naik darah dan panas, tetapi itu bagus, penting bagi kami untuk mengatakan yang sebenarnya,” kata Antoine.

Bagi Arnault, struktur perusahaan yang diisi keluarga yang erat ini berarti perusahaan berpikir jangka panjang. “Ketika Anda berada di sebuah keluarga, Anda memiliki dua keuntungan besar. Salah satunya adalah Anda bisa berpikir jangka panjang. Saya melihat terlalu banyak perusahaan di mana Anda memiliki perubahan sepanjang waktu. Dan terutama di AS, Anda harus selalu melihat angka setiap kuartal berikutnya. ”

“Apa yang selalu saya katakan kepada tim saya adalah saya tidak begitu tertarik dengan jumlah pendapatan untuk enam bulan ke depan. Yang saya minati adalah keinginan untuk membuat merek yang sama dalam 10 tahun seperti sekarang ini.”

Antoine membuktikan ini. "Kami benar-benar tidak mengambil keputusan berdasarkan harga saham, bukan untuk LVMH ... apa yang memotivasi keluarga adalah bahwa Louis Vuitton, Loro Piana, Berluti, Dior berada di puncak permainan mereka."

Keuntungan kedua adalah bahwa karyawan baru diperlakukan seperti keluarga, kata Arnault. "Kamu bukan hanya orang kecil dalam hal besar, kamu adalah anggota keluarga dan kamu akan dijaga seperti itu."

Strategi bisnis Arnault adalah mempekerjakan orang yang dapat memadukan kreativitas dan organisasi, seperti yang dia lakukan ketika dia bekerja dengan ayahnya di tahun 1970-an. "Saya menemukan arsitek kreatif untuk membangun gedung apartemen, rumah atau gedung kantor dengan beberapa jenis kreativitas dan yang membuatnya sukses."

“Dalam bisnis hari ini, sejak tahun 80-an ketika saya membeli Christian Dior, itu adalah kombinasi yang sama yang menjelaskan kesuksesan. Anda harus bekerja dengan beberapa penemu, pencipta, desainer terbaik dan mampu memasarkan produk mereka dan membuat dengan produk mereka, mewujudkan keinginan di dunia, ”kata Arnault.

Namun Arnault dikritik karena mencoba menempatkan begitu banyak merek mewah --termasuk yang bersaing satu sama lain-- di bawah satu atap perusahaan. “Pada tahun 90-an saya memiliki gagasan tentang kelompok produk mewah dan pada saat itu saya dikritik. Saya ingat orang-orang mengatakan kepada saya itu tidak masuk akal untuk mengumpulkan begitu banyak merek. Dan itu ternyata sukses ... Dan selama 10 tahun terakhir, setiap pesaing mencoba meniru. Saya pikir mereka tidak berhasil, tetapi mereka mencoba,” kata Arnault.

Ketika membeli merek, Arnault mencari tahu bagaimana merek itu dapat ditingkatkan dan ceruk apa untuk mengisinya, seperti dalam kasus Bulgari, yang dibeli seharga U$ 5,2 miliar pada tahun 2011. "Kami benar-benar relatif kecil dalam perhiasan dan Bulgari adalah nomor dua di dunia ... Apa yang telah kita bawa ... adalah kapasitas dalam mempekerjakan orang yang tepat dan kita juga dapat memberi mereka bakat terbaik. Karena keuntungan besar LVMH, sejak awal, adalah karena kami nomor satu, karena kami sangat terdiversifikasi, kami dapat menarik bakat terbaik. Sejak membeli perusahaan, penjualan meningkat tiga kali lipat dan laba berlipat lima kali lipat," klaim Arnault .

Fokusnya adalah pada pertumbuhan organik bisnis. Namun LVMH juga menjual perusahaan Amerika, Donna Karan ke G-III Apparel, pada tahun 2016 seharga U$ 650 juta,. “Nama yang sangat bagus, tetapi berada dalam posisi di pasar yang menurut saya terlalu rendah bagi kami dan terlalu berorientasi AS di department store dan itu tidak benar-benar sejalan dengan kami. Jadi saat kami mendapat tawaran yang bagus, kami memutuskan untuk melepas perusahaan itu. ”

Menurut Antoine, keberhasilan ayahnya adalah dalam hubungannya dengan para desainer, daripada menjadi seorang pembangun kerajaan bisnis. “Banyak orang melihat dia sebagai seorang pemodal besar, pikiran strategis yang hebat dalam hal bagaimana membangun kekaisaran. Itu sama sekali bukan cara dia berpikir, menurut pendapat saya," kata Antoine.

“Saya pikir kekuatannya yang besar sebenarnya untuk berbicara dengan orang-orang kreatif dan membuat mereka berkembang di bawah manajemennya. Ini bukan untuk menciptakan laba atau menciptakan lebih banyak pendapatan atau menggandakan ukuran bisnis. Saya tahu itulah konsekuensinya dan itu biasanya yang terjadi, tetapi bakat utamanya adalah dengan pikiran kreatif,” ujar Antonie.

Meskipun pembuat materi iklan diberikan kebebasan tertentu, Arnault tahu apa yang diinginkannya. “Dia tahu apa yang dia inginkan dari mereknya. Dia berhasil menjelaskannya dengan sangat jelas dan jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, dia akan sangat sopan, tetapi cukup jelas membuang iklan itu dan membuat semua orang mengerjakan ulang,” kata Antoine.

Burke, seorang kolega lama, tahu kapan harus mendorong Arnault. “Hal yang paling sulit dilakukan adalah ketika tidak setuju, bukan? Dan untuk melakukannya dalam jangka waktu yang lama, tanpa berpisah,” katanya. ”Presiden LVMH tidak tertarik untuk mengadakan peragaan busana 2016 untuk Louis Vuitton di Rio. Selama krisis ekonomi terbesar yang mereka lihat dalam 60 tahun. Ada kemelaratan terjadi. Ada krisis Zika,” kata Burke.

“Jadi ada banyak masalah di Rio dan dia mengatakan kepada saya untuk tidak melakukannya. Dia justru melarang saya melakukannya. Tentu saja kami berhasil meyakinkannya. Dan itu terbukti sukses besar,” kata Burke.

Memilih desainer yang tepat untuk setiap label juga penting, dengan karyawan baru termasuk Clare Waight Keller di Givenchy dan Maria Grazia Chiuri sebagai direktur artistik wanita pertama Dior. "Saya melihat ke belakang dan melihat bagaimana dia menggerakkan para perancangnya di sekitar papan catur ... dan siapa yang ingin dia bawa dan ketika dia ingin membuat cetakan baru ... Fashion adalah industri yang berubah dan dia sepenuhnya memahami itu," kata Wintour. .

Pada bulan Maret, bintang pakaian jalanan Virgil Abloh dinobatkan sebagai direktur artistik untuk pakaian pria Louis Vuitton, itu jabatan signifikan karena "hanya ada segelintir perancang busana hitam di sebuah industri," menurut British Vogue. Abloh, yang orang tuanya adalah orang Ghana, mendirikan label hip Off-White dan merupakan kolaborator kreatif di label Yeezy milik Kanye West. “Kreativitas bawaan dan pendekatannya telah membuatnya sangat relevan, tidak hanya di dunia mode tetapi dalam budaya populer saat ini,” kata Burke tentang penunjukannya.

Sementara raksasa LVMH justru berkembang karena desainer anti kemapanan. “Mereka perlu diberi tahu, lakukan sesuatu yang menurut Anda tidak akan saya setujui. Begitulah cara Anda menghadapinya setiap hari. Anda berharap mereka memunculkan ide-ide yang tidak Anda setujui, dan itu bukan sebaliknya,” kata Burke.

Apa langkah selanjutnya untuk LVMH? Langkah akuisisi barangkali menjadi lebih sulit, saran konsultan merek, Adamson, karena konsumen yang lebih muda lebih suka merek yang lebih kecil, lebih niche. “Pengusaha ingin tetap independen. Jadi kemampuan LVMH untuk membeli merek baru menjadi lebih menantang karena konsumen memiliki pengetahuan tentang keaslian yang semakin canggih. Bagi banyak dari mereka, kecil lebih baik daripada besar."

Dia mengatakan perusahaan seperti Shinola, perusahaan jam tangan, sepeda, dan kulit yang berbasis di Detroit, tempat tas kulit wanita dijual sekitar U$ 400, mungkin menjadi tambahan yang bagus untuk portofolio. “Orang-orang menyukai merek kecil dengan cerita, dan  perusahaan yang dapat mereka cari secara online.”

Arnault tidak takut membayar harga tertinggi untuk merek yang dia inginkan, kata Blankfein. "Dia membayar harga penuh untuk hal-hal yang tidak dekat dengan apa yang orang lain inginkan dan orang lain mengejek bahwa ia akan pernah menyadari nilai atau memperoleh apa pun dari harga yang ia bayar ... Dibutuhkan sejumlah keberanian untuk berdiri melawan arus, mengetahui bahwa Anda akan mengungguli para ahli dan pendiri yang menciptakan bisnis tersebut."

Tapi Burke dari Louis Vuitton mengklaim bahwa akusisinya memang selalu terbayar. "Biasanya, dalam rentang lima tahun -yang sangat singkat- dengan melihat ke belakang setiap pembelian terlihat seperti jenius," katanya.

Bisnis barang mewah juga harus beradaptasi dengan sarana komunikasi digital. LVMH mempekerjakan Ian Rogers dari Apple Music sebagai chief digital officer pada tahun 2015 dan meluncurkan inkubator start-up di Paris bulan lalu. Ia harus menemukan cara untuk dapat diakses juga, kata Adamson.

“Ada sesuatu yang ajaib dalam cara mereka menampilkan diri ... dan sekarang Internet membuat semuanya transparan. Jadi dalam dunia transparansi, menciptakan mistik kemewahan jauh lebih sulit,” kata Adamson. "LVMH memulai program Les Journées Particulières pada tahun 2012, membuka situs produksinya untuk umum di seluruh Eropa. Orang-orang dapat mengunjungi lokakarya barang-barang kulit, kebun anggur, dan rumah mode dan Oktober ini akan mencakup AS untuk pertama kalinya.”

Sementara itu, Francois-Henri Pinault juga menjalankan grup mewah utama Prancis lainnya, yakni Kering. Dia adalah pemilik label Gucci, Saint Laurent, Alexander McQueen, dan Balenciaga.

Dia dan Arnault pertama berselisih pada tahun 2001 ketika Kering (kemudian dikenal sebagai PPR) memenangkan pertarungan pengambilalihan  Gucci.

Ayah Pinault, Francois, mendirikan kelompok ini pada tahun 1963. Ia sekarang memiliki sekitar 40 persen saham Kering, membuat mereka bernilai sekitar lebih dari U$ 30 miliar. Sementara itu Arnault memiliki 46 persen saham LVMH dan bernilai lebih dari U$ 80 miliar.

Siapa yang akan berhasil di antara mereka, adalah pertanyaan yang sering diajukan pada Arnault. “Yang terbaik dalam hal kapasitas manajemen akan dipilih di masa depan, bukan karena dia adalah anggota keluarga. Tapi seperti yang saya katakan, kelompok secara keseluruhan adalah keluarga, jadi kami akan memilih di dalam keluarga yang terbaik. Tapi saya pikir saya akan berada di sana selama beberapa tahun," katanya.

“Pendiri adalah seseorang yang lapar, yang selalu gugup bahwa mereka akan dikalahkan, bahwa mereka secara inheren lebih susah dan lapar. Dan jika Anda sudah besar di istana, sulit untuk berkelahi dan merasa lapar pada generasi kedua,” kata Wintour.

Apa pun yang akan terjadi di masa datang, Arnault akan siap, kata Wintour. "Dia tidak tertarik untuk berdiri diam, dia tidak tertarik untuk mengulang dirinya sendiri, dia tidak tertarik pada apapun yang tersisa ... Dia adalah seorang pria yang tertarik dengan apa yang bisa terjadi, bukan dengan apa yang telah terjadi."

Di tengah gegap gempita dominasi pemilik teknologi informasi menjadi orang terkaya di dunia, masih terselip nama Bernard Arnault. Itu saja sudah mengagumkan! (eha)

Baca juga:

Bagaimana Pendiri Amazon, Jeff Bezos, Jadi Orang Terkaya di Dunia

Jeff Bezos Cetak Sejarah Sebagai Orang Terkaya Dunia dengan Kekayaan Rp 1.411 Triliun

Taipan Media Sosial Ini Kini Menjadi Orang Terkaya di China

Pria Terkaya di Afrika Bangun Sekolah Bisnis U$ 3,5 Juta di Nigeria

Li Ka-shing, Orang Terkaya di Hong Kong, Putuskan Pensiun