Bagaimana Hugh Hefner Menjadikan Playboy Bacaan Pria Modern

Jumat, 29 September 2017 11:41
Bagaimana Hugh Hefner Menjadikan Playboy Bacaan Pria Modern

Sooperboy.com - Pada bulan Desember 1953, edisi pertama majalah Playboy memuat berita dan foto bugil Maryln Monroe tanpa tanggal terbit.

Menurut New York Times, Jumat 29 September 2017, majalah itu dicetak tanpa tanggal terbit karena Hugh Hefner, penciptanya, tidak yakin akan kesuksesan dan masa depan majalahnya.

Dengan tidak mencantumkan tanggal terbit, dia berharap bisa terus menjual majalah itu tanpa batasan waktu. Sama seperti ketika dia menjual majalah itu ketika baru saja dicetak.

Hefner, yang meninggal dunia pada hari Rabu lalu pada usia 91 tahun, sebetulnya tidak perlu merasa khawatir.

Pasalnya, majalah tersebut masuk dalam daftar publikasi terlaris di Amerika, di samping majalah Life dan Time. Bahkan, terkadang, Playboy mengalahkan kedua majalah berita terlaris itu.

Majalah Playboy awalnya ditujukan untuk pria. Namun majalah tersebut dengan cepat melampaui target audiens Hefner, dengan berbasis pelanggan yang melintasi jenis kelamin, ras, kelas dan ideologi.

Hari ini memang orang mudah menerbitkan media seperti Playboy. Namun, dilihat dari perspektif tahun 1950-an dan 1960-an, Playboy adalah sebuah ikon yang progresif pada zamannya. Tidak hanya karena gaya liberal yang mereka promosikan, namun juga karena di halaman majalah itu menjadi inti dari apa yang dimaksud sebagai pria modern.

Ide maskulin pada zaman itu secara sempit diformulasikan sebagai pencari nafkah, "jantan." Menunjukkan ketertarikan pada budaya, makanan enak atau perjalanan dianggap berlebihan. Hefner merasa terjebak dalam pandangan itu dan merancang sebuah majalah yang memperomosikan gagasan yang sangat berbeda.

Melalui majalahnya, ia merancang apa yang membuat seseorang menjadi "pria" melalui tulisan feature dan nasehatnya tentang pakaian, makanan, pilihan alkohol, seni, musik dan sastra. Meskipun dengan cepat menjadi klise, pembaca pria kemudian benar-benar "membaca artikel itu."

Tentu saja Playboy sejak awal tujuannya adalah menggabungkan dan menarik minat seluruh pria --intelektual, hiburan dan erotisme. Oleh karena itu Playmate Plyaboy populer di kalangan prajurit selama perang. Wanita di majalah tersebut dimaksudkan sebagai gadis daripada objek seks.

Namun kenyataannya wanita-wanita itu sering bertelanjang dada. Meski ketelanjangan secara penuh baru muncul di majalah itu pada tahun 1972, tapi itu membuat Hefner dikritik karena menolak wanita secara obyektif dan dianggap mempromosikan standar kecantikan yang tidak realistis. Tapi Hefner tidak pernah melihatnya sebagai kontradiksi.

Seiring dengan perkembangan gaya editorial majalah itu, Hefner dan editornya lebih banyak terlibat dalam dunia politik dan kejadian terkini.

Menjelang 1960-an, dia sering menulis artikel yang disebutnya "The Playboy Philosophy," di mana dia membahas topik seperti Amandemen Pertama dan adat istiadat seksual.

Dia menganjurkan hak-hak gay. Dia mendorong akses perempuan terhadap kontrol kelahiran dan hak aborsi. Dia membahas penyensoran dan juga apa yang "tidak senonoh" di Amerika Serikat dan mempromosikan pertukaran pemikiran dan gagasan bebas.

Dan pembaca menjawab. Begitu banyak yang menulis bahwa majalah tersebut menciptakan "The Playboy Forum," di mana ia menerbitkan surat pembaca yang membahas isi "Filsafat."

Playboy kemudian menjadi lebih dari sekedar majalah, namun sebuah tempat yang memfasilitasi dialog di antara berbagai pembaca: pria, wanita, veteran perang, anggota kongres dan pendeta, semua menulis ke Forum.

Hefner melampaui halaman Playboy untuk menyebarkan pesannya. Dia menciptakan waralaba Playboy Club untuk menghidupkan atmosfer majalah tersebut bagi para pembacanya. Pria dan wanita bisa membeli makanan enak, minuman keras dan hiburan yang bagus di tempat itu.

Dia mengintegrasikan staf dan keanggotaannya; Dia mempekerjakan pria dan wanita dari semua ras, dan sering kali menyediakan komedian dan pemusik hitam dalam beberapa pertunjukan pertama mereka di depan penonton kulit putih.

Ketika pemilik klub New Orleans dan Miami memisahkan keanggotaan klub,  Hefner membeli kembali waralaba tersebut. Klub-klub tersebut memberi gaji karyawan kepada karyawan wanita dan mendorong mereka untuk kuliah.

Hefner juga mendirikan Yayasan Playboy, yang mendukung hak Amandemen Pertama, yang sering berkontribusi terhadap tersangka dalam kasus kebebasan berbicara.

Playboy juga memainkan peran penting dalam perang Amerika di Vietnam. Bagi ratusan ribu pemuda --usia rata-rata mereka adalah 19 tahun-- majalah tersebut membuat mereka merasa seperti berada di rumah.

Halaman-halaman tengah majalah itu tergantung di tutup tenda dan dinding kantor, dan bisa ditemukan tersimpan di saku, helm dan bungkusan pakaian prajurit.

Para tentara muda itu dengan penuh semangat menyelidiki iklan-iklan gemerlap untuk stereo, mobil dan mode terbaru, yang bisa mereka beli majalahnya di salah satu pangkalan militer yang luas. Majalah ini bertindak sebagai panduan bagaimana selera konsumsi dan konsumerisme bagi banyak pemuda yang sebelumnya tidak pernah memiliki penghasilan.

Artikel dan wawancara di majalah tersebut adalah satu-satunya sumber berita nyata tentang gerakan anti perang dan tandingan yang berkembang di negara bagian. Mereka juga melampaui berita utama, mendiskusikan dan mengkritisi strategi, draf dan politisi yang memindahkan potongan catur.

Tapi majalah tersebut juga tetap mendukung pria yang berperang. Surat-surat yang tidak terhitung jumlahnya dari pegawai ke majalah, yang sekarang tersimpan di arsip Playboy, mengungkapkan betapa majalah tersebut mendorong semangat, bagaimana hal itu membawa ketenangan dari kebosanan,  teror dan kekacauan yang mereka saksikan setiap hari di medan perang.

Evolusi Playboy mencerminkan perubahan norma dan nilai dalam masyarakat Amerika. Meskipun mendapat kritik, majalah Hefner tercermin dan bergulat dengan masalah di masyarakat Amerika.

Pada bulan Agustus 1967, seorang tentara bernama Donald Iasillo menulis kepada Playboy. Ia berterima kasih kepada majalah tersebut karena benar-benar telah menyelamatkan hidupnya. Sebuah edisi terbitan majalah itu  yang dilipat di saku dadanya mencegah peluru musuh memasuki jantungnya.

"Selain nilainya sebagai pelat baja, Playboy adalah pendorong moral terbesar kami di Vietnam," tulisnya. "Untuk ini, kami semua terima kasih." (eha)

Baca juga:

Hugh Hefner, Pendiri Majalah Playboy, Meninggal di Usia 91 Tahun

Gagal Jadi Ratu Kecantikan, Model Playboy Ini Murka!

Raja Playboy Instagram, Dan Bilzerian Liburan Di Bali

Playboy Kampung Ini Terpaksa Dipasung

17 Gadis Keroyok Playboy Kelas Kakap Hingga Babak Belur