Hasil Penelitian Terbaru Menguak Modus Wanita Perkosa Pria

Rabu, 2 Agustus 2017 16:02
Hasil Penelitian Terbaru Menguak Modus Wanita Perkosa Pria

Sooperboy.com - Sebuah survei terbaru terhadap pria yang mengaku telah dipaksa untuk melakukan hubungan seks dengan wanita, mengklaim pemerasan dan ancaman adalah metode yang paling umum digunakan wanita.

Menurut The Independent, Rabu 2 Agustus 2017, sebuah proyek penelitian terhadap 154 pria yang mengaku "telah dipaksa melakukan penetrasi" oleh seorang wanita, menemukan lebih dari seperlima responden dipaksa di bawah ancaman dan pemerasan.

Mengancam akan mengakhiri hubungan, peringatan tentang kabar burung yang beredar seputar pelecehan verbal diakui oleh 22 persen oleh pria pada survei tersebut.

Proyek penelitian yang dipimpin oleh Dr Siobhan Ware, dari Lancaster University Law School, dan didukung badan amal Survivors Manchester, juga menemukan pengunaan kekuatan, seperti menjepit badan pria dengan berat badan wanita atau si wanita memegang senjata, diakui oleh 14 persen pria yang mengikuti survei tersebut.

Proyek ini memang bertujuan untuk menjejahi sebuah tema yang selama ini tabu untuk dibicarakan, yakni kekerasan seksual yang dilakukan wanita pada pria.

Dr Weare berkata, "Meskipun ukuran sampel 154 mungkin lebih kecil dari perkiraan sesungguhnya... ini adalah survei pertama dan satu-satunya yang dilakukan di Inggris."

Menurutnya, sifat "tersembunyi dari kejahatan ini dan dinamika gender yang kompleks, membuat banyak pria merasa terlalu malu atau merasa tertekan untuk melaporkan kekerasan yang dialami dari wanita."

Dr Weare mengatakan sulit untuk mengetahui prevalensi kasus pemaksaan pria oleh wanita ini di Inggris. Namun sebuah penelitian di AS pada tahun 2010 menemukan 1 dari 21 pria dilaporkan "dipaksa melakukan penetrasi" dan 79 persen kasus ini melibatkan pelaku wanita.

Dia menambahkan, istilah "dipaksa untuk melakukan penetrasi" telah diciptakan untuk kasus-kasus ini.

"Istilah perkosaan hanya bisa dikenakan pada laki-laki karena kebutuhan penetrasi penis korban. Dalam kasus "dipaksa untuk melakukan penetrasi," pelaku adalah orang yang ditembus oleh korban yang tidak menyetujui," ujarnya.

Semua dari 154 peserta penelitian itu telah mengalami pemaksaan penetrasi.

Namun hanya dua pria yang pernah melaporkan pengalaman traumatik itu ke polisi. Sialnya, kedua kasus itu tidak pernah sampai disidangkan oleh pengadilan.

"Pemerkosaan" adalah label yang paling sering digunakan oleh para peserta penelitian untuk mengambarkan cobaan berat yang dialami mereka, meskipun undang-undang tidak mengenali kasus semacam ini.

Sebagian besar, 80 persen dari mereka, mengaku tidak pernah mengungkapkan pengalaman buruk yang mereka alami itu kepada keluarga dan teman dekat.

Duncan Craig, pendiri dan Chief Executive Survivors Manchester, seseorang yang punya pengalaman kekerasan seksual serupa, mengatakan: "Ini benar-benar merupakan karya terobosan Dr Weare."

"Kita harus memecahkan kesunyian. Dalam hal ini membiarkan orang tahu bahwa kita ada di sini untuk mendengarkan dan mendukung mereka bila dibutuhkan," ujarnya.

Pertanyaannya, apakah Anda juga pernah mengalami? (eha)

Baca juga:

Pria Afrika Diperkosa Tiga Wanita Selama 3 Hari

Heboh, Rapat Guru Bicarakan Siswa Incaran untuk Diperkosa