Pria Ini Bangun Usaha Senilai Rp 13,3 Triliun dari Gudang Bawah Tanah

Selasa, 11 Juli 2017 11:43
Pria Ini Bangun Usaha Senilai Rp 13,3 Triliun dari Gudang Bawah Tanah

Sooperboy.com - Carl Rodrigues mengatakan keluarga dan teman-temannya sempat mengira dia telah kehilangan akal sehatnya.

"Semua orang mengira saya benar-benar gila," katanya. "Mereka mengatakan 'ada apa dengan orang ini? Apakah dia sedang mabuk?'"

Menurut BBC, Selasa 11 Juli 2017, Rodrigues, seorang konsultan teknologi informasi atau IT yang sukses, suatu hari terbangun dari tidurnya dan tiba-tiba saja memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya yang sudah mapan.

Alih-alih pindah ke tempat kerja baru yang lebih menguntungkan, dia memilih pensiun dan memutuskan menggunakan ruang gudang bawah tanah rumahnya atau basement untuk mengembangkan produk komputer terlaris.

Masalahnya dia tidak punya ide.  Tapi karena khawatir istri dan mertuanya yang tinggal bersama dia tambah mencemooh, dia tidak memberitahu soal itu.

Jadi, pada tahun 2001 dia menarik diri dari pergaulan dan menyibukkan diri di ruang bawah tanah rumahnya di kota Mississauga di Kanada, dan mulai mencoba untuk bermimpi tentang sesuatu.

"Tujuan saya adalah untuk melihat apa yang bisa saya hasilkan dan saya bisa melakukan sesuatu hal yang saya suka," ujarnya.

"Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan, tapi saya pikir saya akan mencobanya," katanya.

Setelah sebulan bekerja dengan jam kerja yang gila-gilaan, Rodrigues akhirnya menemukan ide pertamanya. Yakni membuat sebuah sistem perangkat lunak yang memungkinkan pengguna mengendalikan ponselnya dari laptop mereka.

Setelah memberi nama perusahaannya Soti, ternyata penjualan sistem itu tumbuh amat perlahan. Hingga 12 bulan kemudian Rodrigues mendadak mendapat telepon dari kantor supermarket terbesar di Inggris.

Perusahaan itu mengatakan tidak ingin menjual sistem itu ke pelanggannya. Namun mereka ingin memasukkan sistem itu ke dalam sistem operasi perusahaannya, sehingga staf mereka dapat berkomunikasi dan menyampaikan data dan informasi dengan lebih baik.

Rodrigues, sekarang berusia 55 tahun, Kepala Eksekutif atau CEO Soti, mengatakan, "Saya masih di ruang bawah tanah saat mendapat telepon dari perusahaan tersebut yang mengatakan mereka ingin melakukan pemesanan."

"Saya rasa mereka tidak menyadari bahwa mereka hanya berbicara dengan satu orang di ruang bawah tanah. Jadi ketika orang tersebut meminta untuk berbicara dengan staf di bagian penjualan, saya kembali menelepon tapi dengan tekanan nada suara sedikit berbeda," ujarnya.

Tipuan kecil itu berhasil, dan perusahaan Inggris itu kemudian meninggalkan "pesanan besar" untuk 20.000 unit.

Soti mungkin belum terlalu terkenal sebagai perusahaan. Karena dia menjual sistem perangkat lunak teknologi selulernya kepada perusahaan, bukan konsumen. Namun perusaaahn itu kini pendapatan tahunannya mencapai U$ 80 juta atau Rp 1 triliun.

Karena itu Rodrigues tidak memerlukan investasi dari pihak luar. Bisnis itu 100 persen dimiliki oleh dia dan istrinya. Kini nilai perusahaan itu ditaksir bernilai lebih dari U$ 1 miliar atau Rp 13,3 triluan.

Ia sendiri telah menolak upaya pembelian pada perusahaannya, termasuk penawaran yang tidak diungkapkan nilainya yang dilakukan oleh Microsoft pada tahun 2006. Pemimpin bisnis di Kanada itu malah ingin Soti "menjadi sebesar yang dimungkinkan" di dunia komputer.

Lahir di Pakistan dari sebuah keluarga Katolik Roma yang berakar di bekas koloni Goa Goa di pantai barat India, Rodrigues berimigrasi ke Kanada bersama orang tua dan empat saudaranya saat dia berusia 11 tahun.

Keputusan meninggalkan Pakistan dilakukan oleh ibu Rodrigues. Sebab ibunya khawatir dengan ketidakstabilan sosial dan politik di negara Pakistan pada awal 1970-an.

"Ayah senang di Pakistan, tapi ibu menginginkan anak-anak untuk memiliki tempat aman yang bagus untuk tumbuh dan memiliki pendidikan yang bagus," ujarnya.

Rodrigues sendiri tidak punya masalah untuk menetap di Toronto, Kanada. Dia bahkan menyukai cuacanya yang jauh lebih dingin ketimbang Pakistan.

"Saya sangat ingin melihat salju," katanya. "Itu hal ajaib yang belum pernah saya lihat."

Setelah menyelesaikan sekolah menengahnya, Rodrigues memperoleh gelar di bidang ilmu komputer dan matematika di University of Toronto.

Dia kemudian menghabiskan beberapa tahun bekerja sebagai konsultan IT, sebelum memutuskan pensiun dan mendirikan Soti pada tahun 2001.

Saat ini perusahaanya bernilai lebih dari U$ 1 miliar. Memiliki 17.000 pelanggan bisnis di seluruh dunia, dan 700 karyawan yang tersebar di 22 negara.

Kini dia tak lagi berkantor di ruang bawah tanah. Namun sudah mampu membeli sebuah bangunan yang menjadi kantor pusat di Mississauga, di daerah perbatasan antara Toronto dan Ontario, Kanada.

Jurnalis teknologi Martin Veitch yang mengikuti karir Rodrigues, mengatakan bahwa Soti sangat sukses karena melakukan pendekatan yang khusus.

"Saya pikir Soti adalah contoh perusahaan yang telah berhasil fokus pada ceruk (nitche) bisnis," kata Vetich, editor di situs IDG Connect.

"Banyak pesaingnya adalah vendor besar yang bermain hampir di semua aspek IT," ujarnya. Tapi Soti memilih ceruk yang lebih kecil tapi fokus sebagai spesialis.

Soti juga telah mempekerjakan 20 programer dari Ukraina, dan membantu mereka pindah ke Kanada bersama keluarga mereka.

Sementara Rodrigues tidak lagi harus bekerja dari ruang bawah tanahnya, ibu mertuanya masih tinggal bersamanya, bersama istri dan kedua putranya.

"Ibu mertua saya bukan orang yang pemalu... tapi saya rasa dia senang (dengan apa yang telah saya capai)," ujarnya.

Yang jelas, keputusan gila yang dulu dia ambil tak sia-sia...(eha)

Baca juga:

Wanita Ini Bantu Pria Gelandangan Bangun Hidup Baru

Tukang Sampah Bangun Perpustakaan Gratis dari Buku Buangan

"Sundul Gan”, Perjalanan Jatuh Bangun Duo Pendiri Kaskus

7 Hal yang Harus Diketahui Sebelum Membangun Bisnis

Bos Asal China Bangun Kantornya Serupa Pesawat Antariksa!